Sunday, 28 July 2013

Merencanakan Masa Depan Dengan Perencanaan Keuangan


Merencanakan masa depan? Waduh, untuk menjalani yang ada di depan mata saja masih kelimpungan! Begitu komentar kebanyakan orang saat disinggung soal apa rencana masa depan mereka.

Alasan yang mereka lontarkan cukup beragam, dari mulai pendapatan yang jumlahnya tak seberapa, sampai soal tak banyak orang yang memiliki kebiasaan di keluarga dan lingkungannya untuk memiliki rencana di masa depan.

Padahal, memiliki perencanaan masa depan atas kehidupan yang Anda dan keluarga jalani sangat penting. Jangankan hidup tanpa rencana alias kumaha engke, hidup dengan rencana saja bisa meleset dari target-target yang telah ditetapkan. Tetapi walau meleset, paling tidak masih ada hal-hal lain yang berjalan sesuai rencana, dan hal itu jauh lebih baik ketimbang hidup tanpa rencana.

Nah, dalam merencanakan masa depan, tak bisa dipungkiri kalau soal keuangan merupakan hal yang krusial untuk dilakukan. Untuk itu Anda dapat mulai merencanakan masa depan dengan teknik paling mendasar, yaitu menabung.

Menabung adalah menyisihkan sejumlah uang untuk digunakan di kemudian hari. Artinya, Anda harus mencari tahu apa-apa saja yang perlu dibayarkan dengan menggunakan uang, dan kapan waktunya.

Agar mudah, coba Anda cek lagi kebutuhan masa depan Anda, dan gunakan jangka waktu sebagai patokan usia tabungan sebagai berikut:

1. Jangka pendek adalah tabungan yang digunakan untuk keperluan yang akan datang, dalam waktu maksimal lima tahun. Yang bisa Anda kelompokkan di sini adalah tabungan pendidikan dasar, dari masuk TK, TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, dana darurat, dana start up investasi, dan sebagainya, yang Anda perhitungkan bakal muncul dalam jangka waktu dua tahun.

2. Jangka menengah. Keperluan yang datang antara 5-10 tahun dapat Anda masukkan ke tabungan jangka menengah. Contohnya, dana darurat, tabungan pendidikan kuliah, dana investasi lanjutan, dan sebagainya, yang Anda harapkan munul dalam jangka waktu 2-5 tahun tersebut. 

3. Jangka panjang. Keperluan yang akan Anda dapat dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun, seperti dana pensiun.

Serunya, saat ini banyak sekali produk tabungan berjangka yang ditawarkan ke masyarakat, sehingga Anda dapat leluasa memilih. Selain itu, agar uang Anda dapat tumbuh signifikan dan melewati angka inflasi, Anda wajib juga menabung untuk investasi.

Sumber dari :
http://www.readersdigest.co.id/uang/perencanaan.keuangan/merencanakan.masa.depan.jangan.cuma.mimpi.

Apakah Hobi Sesuai Dengan Kondisi Kantong?


Apa hobi Anda? Mungkin ada di antara Anda yang hobinya membaca buku, menonton, dan membeli barang-barang untuk dikoleksi. Tidak sedikit juga yang hobi memasak, berwisata kuliner, atau sekadar mencoba restoran baru di kotanya. Melakukan hobi tentu saja mendatangkan kesenangan pribadi, membuat diri terbebas dari hal-hal yang tidak menyenangkan, misalnya stres. 

Tapi apakah hobi Anda sesuai dengan kondisi kantong? Apabila tidak sesuai dengan keadaan keuangan, hobi malah bisa menjadi sumber stres. Terdapat beberapa hobi yang lazim dicap mahal antara lain fotografi, bersepeda, otomotif, atau liburan. Untuk dapat menekuni hobi fotografi biasanya Anda ingin memiliki beberapa buah kamera dan perlengkapannya. Demi menambah pengetahuan dan keterampilan Anda menghasilkan foto yang menarik, selain majalah fotografi, kursus pun dipilih sebagai sarana penunjang.

Begitu pula dengan hobi bersepeda. Sepeda nyaman dibandrol dengan harga yang tidak murah. Hobi liburan pun membutuhkan biaya yang cukup tinggi  terkait biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, rekreasi, dan belanja. Jika Anda memiliki hobi yang tergolong mahal tetapi kondisi kantong tidak memadai, maka alih-alih merasa senang, mungkin Anda akan merasa sesak.

Hobi seharusnya sebanding dengan gaya hidup dan level penghasilan. Bukanlah hal bijak bagi Anda, yang bergaya hidup sederhana dan level penghasilan rata-rata, untuk memaksakan diri memiliki hobi di atas kemampuan. Cek kesesuaiannya, coba bandingkan persentase kemampuan Anda menabung dengan biaya yang dikeluarkan untuk hobi. Selain itu, idealnya persentase angka yang diperuntukkan bagi hobi adalah 20 persen dari penghasilan bulanan, termasuk segala macam pengeluaran pribadi. Anda sebaiknya memiliki prioritas untuk tabungan/investasi, cicilan, dan pengeluaran rutin, barulah untuk pengeluaran pribadi mencakup hobi.

Tidak semua hobi harus dituruti jika ingin kondisi keuangan Anda sehat. Berikut beberapa pertanyaan ketika memutuskan perlu tidaknya mendewakan hobi:

1.    Berapa biayanya? Cermati biaya untuk hobi termasuk biaya sampingan yang tak terduga.

2.    Sebesar apa pengaruhnya bagi keuangan saya? Bandingkan dengan tabungan yang Anda miliki.

3.    Sepenting apa hobi ini bagi saya? Seberapa penting hobi Anda, jangan sampai jika tidak melakukannya tidak bisa menikmati hidup secara utuh. Perhatikan manfaat yang dapat diperoleh, seperti kesehatan fisik dan mental, perasaan senang membantu orang lain, atau memberikan sesuatu yang berharga bagi lingkungan, di mana hal-hal tersebut tak ternilai dengan uang.

Indikator bahwa Anda telah menghabiskan terlalu banyak dana untuk hobi yaitu apabila kesehatan keuangan terganggu, bahkan sampai berutang. Jika sudah terjadi, selanjutnya sebaiknya Anda memikirkan cara menekan hobi menjadi lebih minim biaya tanpa mengorbankan perasaan senang  terhadap hobi tersebut. Anda dapat mencoba memaksimalkan yang sudah ada, mengurangi frekuensi pelaksanaan, sampai kepada mencari alternatif sepadan yang bisa menekan biaya.

Apabila kondisi keuangan sehat: tabungan/investasi aman, cicilan terbayar, pengeluaran rutin stabil; silakan lanjutkan hobi Anda. 

Sumber dari :
http://id.she.yahoo.com/apakah-anda-mengeluarkan-terlalu-banyak-uang-untuk-hobi

Perbedaan Antara Resiko Investasi dengan Penipuan Investasi

Setiap Investasi pasti ada yang namanya Resiko karena investasi tujuannya jangka panjang. Dan bedakan Resiko Investasi dengan Penipuan Investasi. Disini saya coba paparkan untuk sebuah model investasi dan cara-cara mengecek investasi tersebut.
  1. Investasi adalah dengan menyerahkan atau menitipkan sejumlah uang atau aset ke seseorang atau lembaga perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntugan di kemudian hari.
  2. Perhatikan status hukum yang kita serahkan asset kita tersebut, apakah perorangan atau badan usaha.
  3. Jika perorangan, apakah ia punya pengalaman dan kapabilitas dalam memutar modal investasi, apakah sering mengalami lose atau profit. 
  4. Jika badan usaha, cek izin usahanya, PT atau CV atau Firma. Pastikan kita tahu siapa direksi, manajemen dan struktur organisasi perusahaan tersebut. 
  5. Jika menjanjikan keuntungan 120% dalam setahun atau 10% dalam sebulan, waspadalah, hati2 scam.
  6. Produk investasi yang baik akan memberikan laporan berkala (misal perbulan/per3bulan) perkembangan investasinya.
  7. CATAT, jika nilai investasinya besar lebih dari 50 jt, pastikan ada bukti hitam di atas putih berupa tanda tangan plus materai.
  8. Kalau hanya ada bukti transfer bank, itu tidak cukup. Dan perhatikan kalau tujuan transfer nya tidak atas nama PT tetapi perorangan, segera hindari.
  9. Uang Anda yang dapatkan itu hasil dari jerih payah usaha anda dan kalau  sampai hilang begitu saja krn investasi bodong wahh ngak tau dech harus bilang apa.
  10. Investasi adalah proses dan tujuannya adalah jangka panjang. Sebaiknya tidak mengharapkan keuntungan besar secara instan.
  11. Semakin tinggi potensi keuntungan, akan semakin tinggi pula resiko suatu investasi.
  12. Berinvestasilah di produk yang kita pahami dan mengerti tentang investasi tersebut.
  13. Jangan berinvestasi hanya karena ajakan/bujukan teman/saudara. Dan perhatikan kalau model investasinya pyramid berarti sudah bisa dipastikan scam hanya waktu yang bisa jawab. Kasihan member yang paling bawah.
  14. Semoga investasi anda berhasil dan anda bukan bekerja untuk uang tetapi uang yang bekerja untuk anda.
  15. Kalau resiko investasi bisa dikualitatif dengan rasio (30:70) artinya 30% lose dan 70% untung. Dan kalau ada yang menjanjikan bahwa kita menerima deviden tetap dari jumlah investasi sudah bisa dipastikan itu scam (penipuan investasi). Apalagi perusahaan tersebut alasan nya bergerak di pertambangan emas dan tidak pernah menunjukkan neraca rugi laba kepada setiap calon investornya.
  16. Thx b4 semoga bermanfaat. 
Sumber dari :
http://www.williamperkasa.com/bedakan-resiko-investasi-dan-penipuan

Thursday, 25 July 2013

Cara Membelanjakan Uang THR


Pada NOVA Edisi Khusus Lebaran yang terbit seminggu lalu saya menulis bahwa bila Anda mendapatkan THR, yang mesti diprioritaskan adalah pembayaran cicilan hutang dan menabung, sebelum Anda membelanjakannya. 

Hanya saja, dalam kenyataannya tidak semua orang mampu melakukannya. "Enggak asyik, dong. Yang namanya THR, ya untuk dibelanjakan!" begitu mungkin Anda berpendapat. Bila Anda memang bersikeras demikian, ya, tentu saja saya tidak bisa melarangnya.

Okelah jika demikian halnya. Bila pada edisi terdahulu kita hanya fokus berbicara tentang pentingnya menggunakan sebagian THR Anda untuk membayar cicilan hutang dan menabungkannya. Sekarang kita akan membahas tentang bagaimana cara yang baik dalam membelanjakan THR Anda! Asyik, kan? 

Biasanya THR banyak digunakan orang untuk berbelanja barang-barang yang tidak terbeli pada bulan-bulan biasa. Sebagai contoh, kalau penghasilan Anda Rp 750 ribu sebulan, maka penghasilan itu mungkin saja habis tiap bulannya hanya untuk membayar pengeluaran bulanan sehari-hari. Keinginan membeli sebuah radio tape untuk ditaruh di kamar si buyung yang baru berusia 14 tahun, misalnya, mungkin sulit terwujud pada hari-hari biasa. Nah kali ini ketika THR datang, mungkin saja hati Anda jadi tergerak untuk berangkat ke toko elektronik dan membeli radio tape itu. Di sini THR berfungsi untuk membeli barang-barang yang tidak bisa terbeli di bulan-bulan sebelumnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah semua THR itu harus digunakan untuk membeli barang-barang yang memang tidak bisa Anda beli pada bulan-bulan sebelumnya? Atau, apakah uang THR itu sebaiknya full digunakan untuk belanja kebutuhan hari raya saja? Ke pos-pos apa saja sebaiknya THR itu dibelanjakan? 

Semua jawaban di atas sebetulnya akan sangat bergantung pada situasi dan kondisi Anda masing-masing. Ibu Nanik dan suaminya yang punya tiga anak misalnya, mungkin saja akan menggunakan THR-nya full untuk keperluan belanja hari raya, mengingat setiap hari raya mereka punya kebiasaan menerima tamu rata-rata tiga keluarga per hari. untuk bersilaturahmi.

Lain halnya dengan Astuti yang bekerja sebagai sekretaris dan belum menikah. Mungkin saja dia tidak memiliki kebutuhan belanja hari raya yang banyak mengingat dia masih tinggal dengan orang tuanya. Orang tuanyalah yang biasanya membelikan kebutuhan hari raya tersebut. Maka, ketika dapat THR, Astuti bisa membelanjakannya untuk membeli ponsel yang sudah beberapa bulan terakhir ini ia idam-idamkan. Biasanya, gaji yang ia terima selalu habis untuk pengeluaran rutin.

Bagaimana dengan Anda? Untuk pos-pos apa saja THR itu sebaiknya digunakan? Bagaimana prioritas belanja yang baik dalam membelanjakan THR? Berikut ini strategi yang bisa digunakan:

1. Prioritaskan Kebutuhan Hari Raya
 
Mau tak mau, belanja hari raya harus jadi prioritas pertama dalam membelanjakan THR jika memang pengeluaran ini jadi tanggung jawab Anda. Ini karena Anda harus berbelanja segala hal yang memang diperlukan untuk hari raya. Nah, memang kebutuhan belanja hari raya setiap orang berbeda-beda. Ada yang besar seperti contoh Ibu Nanik tadi, tapi ada juga yang mungkin malah tidak mengeluarkan apa-apa seperti contoh Astuti yang sekretaris tadi. Besar atau kecil, prioritaskan dulu belanja kebutuhan hari raya Anda.

2. Gunakan Untuk Keperluan Keluarga

Setelah menggunakan THR untuk kebutuhan hari raya, prioritas kedua adalah dengan menggunakan THR Anda untuk membeli barang-barang keperluan keluarga yang memang cukup penting tapi tidak terbeli pada bulan-bulan biasa. Sebagai contoh, mungkin saja sudah lama Anda ingin mengganti teve Anda dengan ukuran yang lebih besar, mengingat jumlah orang yang tinggal dalam rumah Anda sekarang tambah banyak. Kalau memang barang itu penting dan dibutuhkan, beli saja. Atau mungkin saja sebuah kulkas yang diperlukan untuk menyimpan bahan belanjaan. Bila memang itu diperlukan keluarga Anda dan saat ini ada uang untuk membelinya, lakukan saja.

3. Untuk Belanja Pribadi
 
Setelah barang-barang keperluan keluarga yang kemarin-kemarin tidak terbeli itu telah terpenuhi, barulah gunakan sisa THR Anda untuk membeli barang-barang kebutuhan pribadi Anda yang selama ini belum terbeli tetapi memang sudah jadi kebutuhan. Baju? Perhiasan? Tas? Sepatu? Alat olahraga? Atau ponsel? Terserah Anda. Yang penting, kebutuhan belanja untuk hari raya dan keperluan keluarga sudah didahulukan. 

Mudah-mudahan dengan penjelasan ini Anda tak bingung lagi dalam membelanjakan THR Anda. Selamat berbelanja.

Sumber dari :
http://perencanakeuangan.com/files/StrategiBelanjaTHR.

Sunday, 21 July 2013

Tips Perencanaan Anggaran Belanja Buat Lebaran


Anggaran belanja jelang Ramadhan dan lebaran biasanya akan membengkak hingga dua kali lipat. Bagaimana cara menyiasatinya? Berikut ini tips-nya

Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita setiap jelang Lebaran pasti akan terjadi pembengkakan anggaran belanja rumah tangga. Hal ini disebabkan adanya pos-pos tambahan dalam daftar anggaran belanja bulanan selama bulan puasa ini untuk menyambut datangnya Lebaran.

Beberapa tips ini bisa Anda jadikan acuan untuk perencanaan anggaran belanja, agar Anda tidak sampai terlalu boros dalam membelanjakan keuangan Anda meskipun akan ada THR (Tunjangan Hari Raya) yang biasanya besarnya berupa 1 kali gaji.

Tips perencanaan anggaran belanja jelang ramadhan dan lebaran

1. Belanja jauh hari sebelum puasa dan lebaran. Biasanya mendekati puasa dan lebaran harga bahan-bahan cenderung naik, jadi dengan berbelanja jauh hari sebelum harga bahan mulai naik, Anda akan bisa lebih menghemat pengeluaran.

2. Buat daftar prioritas anggaran belanja. Utamakan kebutuhan pokok dahulu untuk memenuhi kebutuhan harian selama puasa dan lebaran. Biasanya kebutuhan pokok selama puasa dan lebaran juga akan mengalami kenaikan kuantitas, sebab selama puasa akan ada beberapa acara yang biasanya diadakan seperti kenduri jelang Ramadhan, buka puasa bersama, dan kenduri jelang Lebaran. Memasuki lebaran juga akan ada acara pembuatan ketupat lebaran dan acara kumpul bersama keluarga dan handai taulan.

3. Jangan lupa sisihkan untuk sedekah dan membayar zakat sebagai prioritas utama.

4. Belanja kebutuhan lebaran seperti kue kering dan minuman untuk suguhan selama acara halal – bihalal.

5. Jika dalam keluarga Anda terbiasa memakai baju baru saat berlebaran, ada baiknya manfaatkan momen diskon besar-besaran untuk mencari baju lebaran, tetapi Anda juga harus teliti dan cermat dalam memilih barang diskon. Jangan sampai kalap dengan adanya diskon tersebut.

 
6. Untuk mukena, sajadah, dan sarung lama yang masih bagus, sebaiknya Anda tidak perlu hunting untuk mencari yang baru. Anda masih bisa memanfaatkan barang lama tersebut. Kecuali jika barang-barang tersebut sudah usang karena setiap hari di pakai. Jika Anda hanya memakainya sekali atau dua kali setahun, tentunya Anda masih belum perlu membeli yang baru khan?

7. Sisihkan anggaran belanja untuk berkunjung ke sanak saudara ataupun rencana mudik. Biasanya pada musim lebaran, biaya transportasi mengalami kenaikan hingga 50%.

8. Sisihkan juga anggaran belanja untuk membagi ang-pao (uang saku) kepada anak-anak.

9. Jangan habiskan anggaran belanja yang ada, sebaiknya sisihkan sebagian untuk dana darurat Anda.

Pada intinya Anda harus bijak dalam mengatur keuangan meskipun pos tambahan pemasukan juga ada. Utamakan kebutuhan pokok sebelum memenuhi kebutuhan lainnya

Sumber dari :

http://id.theasianparent.com/anggaran-belanja-lebaran/