Wednesday, 10 July 2013

Jangan Malas Berinvestasi, Mulai Sekarang Harus Berinvestasi!


Tidak ada kata terlambat untuk berinvestasi. Berapa pun usia Anda, lakukan investasi mulai dari sekarang.

Kebanyakan, orang Indonesia menunda-nuda melakukan investasi karena prinsip keuangannya adalah bagaimana bisa menghabiskan uang hari ini bukan bagaimana uang hari ini bisa ditabung.

Demikian dikatakan Perencana Keuangan Aidil Akbar saat acara Peluncuran buku Aidil Akbar berjudul Easy Planning "Hidup Sejahtera Sekarang dan Nanti," di Konikuniya Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2013).

Dia melanjutkan, orang Indonesia dari awal sudah salah didik karena cenderung mengarahkan anaknya secara tidak langsung untuk menghabiskan uang yang dimiliki saat ini tapi tidak mengarahkan untuk menabung atau investasi.

"Dari kecil kita sebenarnya sudah salah didik jadi kalau kita memiliki uang prinsipnya bagaimana menghabiskan uang itu tidak dididik bagaimana untuk ditabung," terangnya.

Aidil menjelaskan, untuk menggapai hidup sejahtera di masa mendatang, seseorang perlu mengatur keuangan sedini mungkin. Simpelnya, berapa pun income yang kita dapat, usahakan dan belajarlah untuk bisa diinvestasikan minimal ditabung.

"Berapa pun income yang kita dapatkan cenderung kita bagaimana menghabiskannya. Harusnya gimana caranya uang ini nggak langsung habis tapi disisihkan untuk ditabung," ujarnya.

Sumber dari :
http://finance.detik.com/tidak-ada-kata-terlambat-berinvestasi-mulailah-dari-sekarang

Tuesday, 9 July 2013

Berbagai Macam Pilihan Bisnis Yang Menarik


Tampaknya memiliki usaha kedua bagi pekerja kantoran atau pun ibu rumah tangga kini menjadi tren. Apalagi jika usaha tersebut menjanjikan sejumlah kesuksesan termasuk menambah penghasilan keluarga di tengah kebutuhan hidup yang tinggi.

Tapi ada baiknya sebelum memulai kita cari tahu dulu pilihan usaha yang bisa kita jalankan dan cocok dengan "kemampuan" kita. Salah satunya adalah pilihan cara berbisnis. Ada 3 kategori besar pilihan bisnis yang bisa dipikirkan, yaitu :

1. BISNIS RUMAHAN.
Yaitu bisnis yang bertempat dan dijalankan di rumah. Bisa berupa warung, toko, warnet, workshop, dan lain-lain.

Kelebihan :
a. Menumbuhkan kreativitas karena harus bersaing dengan usaha sejenis yang mungkin sudah ada terlebih dahulu.
b. Bisa menciptakan lapangan kerja baru.
c. Waktu untuk keluarga lebih fleksibel karena dijalankan di rumah.
d. Jika sukses, bisa menjadi sumber utama pemasukan rumah tangga.

Kekurangan :
a. Perlu modal yang cukup. Walau tak perlu menyewa tempat, tapi butuh modal untuk kelengkapan usaha.
b. Keuntungan bisa jadi tidak bisa cepat datang.

2. BISNIS ONLINE
Yaitu bisnis yang memanfaatkan media/jaringan internet sebagai jalur utama usaha. Bisa melalui blog, website, atau jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan sejenisnya.

Kelebihan :
a. Murah dan mudah. Karena bisa dikatakan modal utamanya hanyalah akses internet, dan bisa dipelajari semua orang.
b. Akses luas tak berbatas, karena dunia maya adalah dunia yang tak terbatas oleh batas daerah atau negara.
c. Transaksi bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Kekurangan :
a. Karena bukan dunia nyata, sebagian orang yang biasa membeli barang/jasa secara langsung kadang tak percaya atau ragu.
b. Saingan yang sangat banyak.
c. Akses tak berbatas sehingga harus super hati-hati terhadap penipuan.

3. BISNIS FRANCHISE / WARALABA
Yaitu bisnis dengan bekerja sama dengan pihak lain dengan cara membeli lisensi nama, merek, dan cara-cara yang telah ditentukan. Varian bisnis franchise sangat luas, dari usaha makanan, laundry, pakaian, hingga jasa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan jika ingin ber-franchise :
a. Modal. Cari franchise yang sesuai dengan modal yang kita punya atau sesuaikan level franchise dengan modal yang kita punya karena biasanya pemilik franchise membuat level yang bisa dipilih calon pembeli lisensi.
b. Sesuaikan dengan minat. Jika suka memasak, pilihlah bisnis makanan.
c. Pengetahuan dan informasi tentang bisnis yang akan dipilih. Jika perlu selidiki latar belakang pemilik, mau terbuka dan terus berkomunikasi atau tidak, dan jangan lupa untuk melihat dulu outlet yang sudah beroperasi.
d. Pahami perjanjian franchising, terutama perjanjian hak dan kewajiban. Karena bukti tertulis ini menjadi pedoman kedua belah pihak.
e. Manajemen yang baik. Baik dari keuangan, sumber daya manusia, promosi yang inovatif dan kreatif untuk mempertahankan usaha, serta menjaga relasi bisnis.

Sebenarnya dari ketiga pilihan bisnis ini bisa juga digabungkan, misalnya usaha franchise yang dilakukan di rumah dan menggunakan jaringan internet sebagai media promo. Jadi pada intinya adalah kreativitas dan keberanian kita untuk memulai usaha.

Selamat memulai usaha.

Monday, 8 July 2013

Kebiasaan-kebiasaan Buruk Yang Bisa Membahayakan Kondisi Keuangan Anda


Jika ingin kondisi keuangan Anda sehat, jangan terlalu fokus kepada pengeluaran besar. Justru biasanya penyebab sakitnya kondisi keuangan Anda gara-gara pengeluaran kecil namun dilakukan terus-menerus.
Kebiasaan buruk seperti ini justru yang membuat pengeluaran menumpuk hingga menjadi pengeluaran besar. Seperti halnya dengan banyak kebiasaan buruk lainnya, Anda mungkin bahkan tidak akan menyadari hal-hal buruk itu sampai Anda pulang ke rumah dan termenung di malam harinya

Jadi, pertimbangkan hal ini: Anda mungkin telah melakukan banyak hal bodoh dengan uang Anda dan kini saatnya membuat beberapa perubahan sebelum Anda benar-benar menguras rekening bank sendiri.

Setengah tahun sudah berjalan di 2013, mari kita mulai membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa membahayakan kondisi keuangan. Berikut adalah kebiasaan-kebiasaan buruk soal pengeluaran uang yang sebaiknya dihindari seperti dikutip dari DailyFinance, Jumat (5/7/2013).

1. Terlalu Sering Makan di Luar
Sedikitnya Anda makan tiga kali sehari, artinya dalam sebulan bisa sampai seratus kali kesempatan untuk makan di luar dan memungkinkan untuk menghabiskan banyak uang. Terlalu banyak orang menggunakan kesempatan itu dengan pergi keluar untuk makan atau memesan makanan.

Makan siang, misalnya. Jika Anda makan siang di Cafe, tentu biaya yang dikeluarkan cukup besar. Hal ini bisa dikurangi dengan makan siang di warteg atau warung padang yang tentunya jauh lebih murah.

Tapi, alangkah lebih baiknya lagi jika Anda membawa bekal dari rumah sehingga biaya makan Anda sudah termasuk dalam daftar belanja bulanan dan tidak perlu mengeluarkan uang lagi.

Pergi keluar untuk makan malam bahkan lebih buruk lagi. Setidaknya satu orang bisa menghabiskan uang sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000 untuk sekali makan. Belum lagi jika ingin beli cemilan untuk dimakan di rumah sebelum tidur.

Bahkan sarapan di luar juga masuk dalam pengeluaran yang menguras anggaran. Membeli sekotak sereal di awal pekan atau roti tentunya akan lebih murah ketimbang harus membeli bubur atau nasi kuning di dekat kantor setiap pagi.

2. Gila Diskon
Ada banyak cara perusahaan menarik konsumen. Salah satunya adalah dengan memberikan diskon, apalagi jika potongan harga itu berlaku dalam jangka waktu yang pendek.

Penjual selalu pandai memikat pembeli dengan memberikan diskon yang menjanjikan yang akan hilang jika Anda tidak segera membelinya. Contohnya, potongan 50% khusus hari ini saja, atau beli satu dapat dua jika membeli hari ini, dan lain-lain.

Program diskon seperti ini yang akan membuat Anda membeli barang yang sebenarnya tidak begitu diperlukan. Bahkan, konsumen bisa membelinya hanya karena diskon, padahal tidak butuh-butuh amat.

3. Sering Nonton Film Bioskop
Bagi mereka yang berpenghasilan cukup tinggi, mungkin menonton film di bioskop bukan termasuk pemborosan. Tapi, lain halnya dengan mereka yang berpenghasilan menengah.

Ambil contoh, harga rata-rata tiket bioskop di Jakarta pada hari biasa sekitar Rp 25.000-40.000 per orang. Kita ambil sekitar Rp 40.000 untuk sekali nonton. Jika Anda punya pasangan, berarti jadi Rp 80.000.

Ditambah biaya popcorn dan minuman bisa jadi total sekitar Rp 120.000. Setelah nonton tidak langsung pulang dan ingin isi perut lagi, akhirnya makan di cafe atau restoran cepat saji, menu dua orang kira-kira Rp 100.000.

Hanya dalam waktu kurang dari enam jam, Anda sudah menghabiskan Rp 220.000. Masih terlihat kecil? Bulan ini memasuki musim panas di negeri barat, saatnya film-film box office bermunculan.

Dalam satu bulan Anda pergi menonton empat kali atau satu pekan sekali, total uang keluar Rp 880.000. Biaya yang cukup besar untuk dana hiburan, jika tidak dikurangi akan bahaya terhadap kondisi keuangan Anda.

Cara mengatasinya adalah dengan membatasi acara pergi nonton bioskop dan sedikit bersabar menunggu DVD nya keluar. Jika filmnya tidak bagus-bagus amat, lebih baik nunggu DVD-nya rilis atau bahkan tunggu sampai nongol di televisi swasta saja.

4. Mengejar Poin dan Reward Kartu Kredit atau Debit
Banyak orang terjebak dengan program ini, hanya demi mengejar poin atau reward di kartu kredit, akhirnya belanja kebablasan dan tidak pakai itungan, yang penting menang undian.

Pikirkan kembali tujuan awal Anda mengambil kartu kredit atau debit, apakah Anda melakukannya untuk mendapatkan poin dan reward? Itu tidak berarti bahwa Anda tidak harus mengubah kebiasaan belanja Anda demi mengejar poin.

Jika Anda bisa mendapatkan bonus sangat signifikan dengan menghabiskan banyak uang dalam beberapa bulan pertama, maka Anda bisa belanja bulanan dengan menyetok barang-barang untuk bulan-bulan berikutnya. Sehingga, pengeluaran Anda besar di awal, dan dapat poin tentunya, dan di bulan-bulan berikutnya tidak perlu terlalu boros.

5. Malas Untuk Menghentikan Tagihan Berulang
Tahun ini Anda berniat kurus dan kekar dengan cara ikutan jadi anggota salah satu pusat kebugaran alias gym. Gym ini bayarannya bulanan, Anda minta pembayaran dilakukan otomatis tiap bulan melalui kartu kredit.

Awalnya mungkin Anda semangat, namun seiring waktu berjalan, lama-lama Anda mulai malas ke gym atau bahkan lupa dan berhenti pergi sama sekali. Jika Anda tidak datang ke tempat gym dan membatalkan keanggotaan, bisa jadi tagihan kartu Anda akan terus ditarik setiap bulan untuk layanan yang sebenarnya tidak lagi Anda gunakan.

Mungkin Anda sudah lupa jika biaya ini berulang, atau mungkin di dalam hati Anda masih berniat ingin pergi ke gym lagi karena tahun ini sudah berjanji ingin kurus dan kekar. Ini adalah salah satu kebiasaan buruk pengeluaran Anda.

Sumber dari :
http://finance.detik.com/.-keuangan-anda

Tips Merencanakan Keuangan Untuk Biaya Hidup Anak Di Perguruan Tinggi


Menyiapkan kebutuhan anak saat masuk bangku kuliah tak melulu terkait biaya sekolah. Biaya hidup anak selama kuliah, terutama yang di luar kota atau mancanegara perlu juga disiapkan. Apa saja yang perlu ditempuh untuk antisipasi?
 
Prinsip selangkah lebih maju lazim dipegang oleh para orangtua. Saat ayah dan ibu mengecap pendidikan S1 atau S2, menjadi sesuatu yang wajar jika orangtua tersebut mengharapkan anak-anak mereka mengecap pendidikan melampaui pencapaian mereka tersebut.

Jika dahulu orangtua meraih gelar pendidikan tinggi di universitas dalam negeri, sang anak kelak kalau bisa jauh menuntut ilmu hingga ke negeri seberang. Namun, mimpi atau ambisi orangtua yang demikian tinggi akan sia-sia semata jika tanpa didahului dengan persiapan lahir batin.

Persiapan batin mungkin lebih bersifat internal. Seperti menimbang dan menghargai ego dan ambisi anak yang pasti memiliki minat, ambisi, dan mimpi sendiri. Ini berkait dengan pemilihan program studi juga universitas incaran.

Adapun, para orangtua akan lebih dituntut menyiapkan persiapan lahir. Dalam hal ini, yang paling mencolok adalah persiapan biaya pendidikan berikut biaya hidup sang anak.
 
Jika Anda sudah terlanjur sakit perut membaca paparan tentang kebutuhan biaya kuliah nan luar biasa besar, bersiaplah untuk memanjangkan napas lebih lama.

Kebutuhan biaya kuliah anak yang sudah Anda hitung, apakah yang dihitung sendiri atau dengan bantuan jasa perencana keuangan, belumlah termasuk biaya hidup si anak saat menempuh pendidikan tinggi. Terlebih jika kelak anak Anda berkuliah di luar kota atau mancanegara tanpa sokongan beasiswa bernilai penuh. Biaya hidup mereka saat kuliah kelak, ada baiknya turut disiapkan dari jauh-jauh hari.
 
A. Jangan tunda
Apa sajakah yang termasuk biaya hidup anak saat kuliah? Yang pasti adalah kebutuhan primer anak selama menjalani studi di tanah orang, mulai dari kebutuhan papan alias tempat tinggal, lalu kebutuhan makan dan pakaian, juga transportasi dan sosialisasi anak.

Jika anak Anda akan kuliah di negeri orang, maka perlu juga Anda siapkan tiket keberangkatan berikut biaya-biaya pembuatan visa pelajar.
"Masing-masing negara berbeda syarat dan biayanya," kata Lisa Soemarto, perencana keuangan AFC Financial.
 
Beberapa negara juga mensyaratkan agar para pelajar asing yang datang ke negeri mereka sudah dilindungi dengan asuransi kesehatan.

Lisa Soemarto, perencana keuangan AFC Financial, menyarankan para orangtua agar mempersiapkan dana biaya hidup saat anak kuliah, jauh-jauh hari. Ini bertujuan meringankan penyisihan dana, sama saja dengan prinsip pencapaian tujuan keuangan yang lain.

Jika anak Anda saat ini masih di dalam perut, mungkin Anda merasa terlalu cepat menyiapkan dengan terperinci kebutuhan biaya hidupnya saat kuliah kelak. Namun, menunda sama artinya menambah ongkos baru yang harus Anda tanggung, yakni risiko waktu dan risiko tak tercapainya tujuan keuangan. 

Berikut KONTAN beberkan langkah-langkah apa saja yang perlu dipersiapkan oleh orangtua dalam menyiapkan dana biaya hidup saat buah hati menempuh studi pendidikan tinggi: 
 
1. Riset tempat tujuan
Langkah pertama yang perlu Anda tempuh dalam menyiapkan biaya hidup Anak saat kuliah adalah meriset tentang daerah, kota, atau negara. Poin ini tentu tidak terlalu signifikan bagi Anda yang hendak menguliahkan anak di kota tempat tinggal keluarga saat ini.

Jika tempat kuliah yang Anda tuju untuk anak adalah kota di dalam negeri, Anda boleh berharap beban biaya yang perlu disiapkan akan lebih ringan. Paling tidak, ongkos transportasi tidak menjadi kendala signifikan jikalau suatu ketika anak Anda ingin menjangkau si orangtua atau sebaliknya.

Lantas, apa saja yang perlu diriset? Pertama, biaya makan. Ambil contoh di Yogyakarta, sebagai kota dengan biaya hidup relatif rendah. Satu dasawarsa silam, harga sepiring nasi bermenu lengkap cuma Rp 2.000-Rp 5.000. Sekarang, akibat inflasi, biayanya sudah berkisar antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000 per piring.

Ambil asumsi per hari biaya makan Rp 40.000 atau Rp 1,2 juta per bulan. Berapa kira-kira 18 tahun lagi saat anak Anda berkuliah di sana? Jika diasumsikan inflasi per tahun 10%, maka 18 tahun lagi biaya makan sebulan di Yogyakarta mencapai Rp 6,67 juta.

Riset serupa juga harus Anda lakukan jika tempat kuliah anak kelak ada di mancanegara. Telusuri informasi yang tumpah ruah di internet tentang biaya makan di satu negara (lihat tabel biaya hidup). 

Bertanya pada kolega yang pernah bersekolah atau menyekolahkan anak di sana juga bisa dilakukan. "Jangan sungkan bertanya pada forum-forum online atau milis yang terkait dengan kuliah di luar negeri," saran Rajius Idzalika, mahasiswa program doktor di Georg-August-Universität Göttingen, Jerman.
 
Semakin spesifik riset yang Anda lakukan akan lebih bagus karena setiap kota memiliki profil berbeda. Misalnya, Anda berniat menyekolahkan anak di Inggris, tepatnya di Canterbury. Kumpulkan informasi spesifik tentang kota tersebut. "Canterbury dekat dengan London sehingga biaya hidup sedikit lebih mahal dibandingkan di Leeds atau Birmingham," ujar Karmila Parakassi, yang tengah menempuh studi S2 di Kent University.

Kedua, biaya tempat tinggal. Anak Anda mau tinggal di mana selama kuliah di tanah orang? Di apartemen, di rumah kontrakan, atau kamar petak alias kos-kosan? Kebutuhan biaya setiap pilihan tentu berbeda.

Ambil contoh termurah, yakni kamar petak alias kos. Saat ini di Surabaya, sewa kamar kos untuk mahasiswa di bilangan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) minimal dibanderol Rp 150.000 per bulan. Jika diasumsikan inflasi per tahun tarif kos sebesar 20%, maka 10 tahun lagi menjadi sekitar Rp 930.000 per bulan.

Di luar negeri, mencari kamar kos di daerah luar kampus, seturut pengalaman Karmila, bisa lebih murah yaitu £ 295 per bulan untuk ukuran single bed. "Kalau di daerah kampus rata-rata sudah £ 400 per bulan," jelasnya.

Ketiga, biaya transportasi. Jika memakai kendaraan sendiri maka yang perlu dihitung adalah kebutuhan bensin dan tentu saja dana pembelian kendaraan. Toh, kendaraan itu baru dipakai anak Anda beberapa tahun mendatang. Lebih baik menabung dana pembelian ketimbang membeli sekarang karena nilainya akan menurun.

Jika mengasumsikan anak Anda kelak memanfaatkan fasilitas transportasi publik, menyurvei biaya transportasi publik di daerah tujuan harus dilakukan. "Di Göttingen sini, naik bis sekali jalan sekitar € 1,5 euro," kata Rajius.

Keempat, biaya lain-lain. Misal, terkait biaya pendukung aktivitas perkuliahan, dari mulai buku kuliah, praktikum, dan seterusnya.

2. Riset keberangkatan
Setelah meriset tentang profil daerah tempat calon kampus anak Anda, jangan lupa pula meriset kebutuhan biaya keberangkatan. Ini khusus untuk anak yang hendak kuliah di luar negeri menimbang biayanya yang lebih signifikan.

Pernak-pernik kebutuhan keberangkatan ke negeri seberang antara lain menyangkut biaya pengurusan visa studi. Di beberapa negara, mensyaratkan perlindungan asuransi kesehatan bagi mahasiswa yang kuliah di sana.

Pembuatan asuransi memang baru akan diurus mendekati keberangkatan, namun tak ada salahnya Anda meriset harga asuransi kesehatan saat ini dan menyiapkan antisipasi dana hingga nanti dibutuhkan. Oh, iya, jangan lupa persiapan biaya tiket keberangkatan.
 
3. Susun perencanaan
Setelah semua informasi terkait biaya hidup di kota tujuan berikut persiapan biaya keberangkatan, sudah Anda kantongi. Kini saatnya Anda mulai menyusun perencanaan aksi menabung atau investasi.

Triknya serupa dengan menyiapkan biaya kuliah (lihat halaman 14), yakni asumsi biaya saat ini dikalikan asumsi inflasi dan jangka waktu yang tersisa sebelum tenggat penggunaan dana datang.

Sebagai contoh hitungan sederhana, perkiraan total biaya hidup kuliah di Surabaya saat ini adalah Rp 30 juta per tahun. Total biaya selama studi empat tahun sekitar Rp 120 juta. Asumsi inflasi berkisar 15% per tahun. Nah, 10 tahun lagi anak Anda mulai masuk kuliah. Berarti, kebutuhan dana si buah hati yang harus disiapkan berkisar Rp 485,5 juta.

Khusus untuk Anda yang hendak menyekolahkan anak di luar negeri, menimbang gerak kurs alias nilai tukar mata uang di negara tujuan juga perlu diperhitungkan.

Prita Ghozie, perencana keuangan ZAP Finance, menyarankan, jika jangka waktu menuju tenggat penggunaan dana masih di atas lima tahun, ada baiknya Anda berinvestasi dalam rupiah saja. Ini menilik laju return produk investasi dalam dollar AS maupun dollar Australia yang masih lebih rendah. Nah, ketika nanti sekitar lima tahun atau kurang dari itu tenggat penggunaan dana datang, anda perlu mengonversi dana ke mata uang terkait.

Perencana keuangan MRE Consulting Diana Sandjaja menyarankan, sebaiknya dana biaya kuliah atau biaya hidup selama kuliah ditukarkan ke mata uang terkait paling lama satu tahun sebelum digunakan. Itupun perlu menimbang kondisi makroekonomi saat itu. "Tidak disarankan untuk menabung dalam mata uang asing secara langsung karena return-nya dikhawatirkan tidak bisa mengejar inflasi biaya," kata dia.
 
4. Mulai beraksi
Anda bisa menyusun perencanaan keuangan sendiri atau meminta jasa financial planner. Tarif jasa para perencana keuangan saat ini cukup beragam. Ada yang dengan tarif sekitar Rp 8 juta untuk setiap kontrak, Anda sudah bisa diberikan jasa konsultasi dan penyusunan financial plan lengkap termasuk untuk biaya pendidikan dan biaya hidup kuliah.

Jika memilih menerapkan perencanaan sendiri tanpa bantuan financial planner, Anda perlu meluangkan waktu lebih untuk memilih produk investasi yang tepat demi tercapaianya tujuan keuangan.

Ingat prinsip kesebandingan risiko dan return dalam produk investasi. Hal itu berimplikasi pada pilihan produk. Jika penggunaan dana masih lama (di atas 10 tahun), memutar dana di saham atau reksadana saham bisa jadi pilihan. Jika penggunaan dana antara lima tahun hingga 10 tahun,

Anda bisa memilih obligasi atau reksadana campuran. Di bawah lima tahun hingga tiga tahun, sebaiknya memanfaatkan reksadana pendapatan tetap atau logam mulia emas. Kurang dari tiga tahun, Anda bisa memutar dana di reksadana pasar uang atau sertifikat deposito.

Reksadana banyak direkomendasikan para perencana keuangan karena relatif ringan dan mudah dijangkau. Dengan setoran minimal Rp 100.000, Anda bisa mulai berinvestasi. Bandingkan dengan investasi saham atau obligasi yang butuh dana minimal Rp 5 juta–Rp 10 juta.

Untuk meminimalkan risiko tidak tercapainya target dana, Anda perlu mengecek kondisi kesehatan keuangan dan memonitor hasil investasi. Semoga tujuan pendidikan si buah hati tercapai. Jangan menyerah sebelum berusaha, ya.

Sumber dari :
http://personalfinance.kontan.co.id/news/menyiapkan-biaya-hidup-anak-ketika-kuliah



Sunday, 7 July 2013

Ciri-Ciri Keuangan Yang Tidak Sehat


Menjaga keuangan agar tetap sehat sama halnya dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar. Salah satu cara untuk mengetahui sehat atau tidaknya kondisi tubuh adalah dengan mengenali gejala-gejala dari kondisi kesehatan tubuh yang buruk. Nah, hal yang sama juga perlu diterapkan ketika seseorang ingin mengenali kondisi keuangannya.

Itulah yang disampaikan Eko P. Pratomo dalam bukunya 50 Financial Wisdom. Menurut Eko, “Anda perlu tahu tanda-tanda adanya gejala kondisi keuangan Anda yang mulai tidak sehat atau mungkin malah sudah sakit.”

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui sehat atau tidaknya kondisi keuangan kita. Tentunya ada banyak sekali parameternya. Namun, menurut Eko ada tujuh gejala utama yang apabila muncul, kemungkinan besar kondisi keuangan keluarga kita tidak sehat. 
  1. Kita tidak dapat memenuhi kewajiban secara agama terkait dengan harta benda yang kita miliki (contohnya zakat untuk umat Islam dan perpuluhan bagi kaum Nasrani).
  2. Kita kerap kesulitan atau bahkan sudah tidak bisa menabung secara rutin. Dalam kondisi ini, biasanya pengeluaran (tanpa tabungan) sama atau bahkan lebih besar dibandingkan dengan penghasilan.
  3. Ketiadaannya dana darurat yang jumlah minimalnya sebesar tiga kali pengeluaran bulanan Anda. Dana cadangan adalah dana yang disiapkan untuk kondisi darurat dan, tentunya, hanya digunakan dalam kondisi darurat.
  4. Jika memiliki kartu kredit, biasanya tidak mampu melunasinya setiap bulan sehingga harus mencicil, dengan bunga yang makin besar.
  5. Jika memiliki utang, kita kerap mengalami kesulitan untuk melunasinya, bahkan dengan cara mencicil.
  6. Memiliki saldo utang yang lebih besar dibandingkan dengan aset yang kita miliki.
  7. Tidak adanya perencanaan dan persiapan finansial untuk masa depan, misalnya untuk pendidikan anak atau saat pensiun kelak.
Nah, teliti kembali apakah Anda termasuk di dalamnya?

Sumber dari :
http://intisari-online.com/7-tanda-keuangan-yang-tidak-sehat