Wednesday, 31 July 2013

Syarat Untuk Menjadi Trader Saham


Setiap orang yang sudah melakukan investasi di saham biasanya ingin juga bisa melakukan trading saham secara langsung. Namun, syarat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang investor jika ingin melakukan trading saham secara langsung (trader)?

Equity Capital Market Retail PT Mandiri Sekuritas Fath Aliansyah Budiman mengatakan, trading saham baru boleh dilakukan jika seseorang punya waktu yang lebih banyak sehingga bisa fokus dan memantau pergerakan saham secara terus menerus.

"Kita baru boleh trading kalau punya waktu banyak, panjang karena trading itu harus selalu dipantau," kata Fath pada acara Financial Clinic “Smart Investment” bersama Aidil Akbar di The Cone, fX Lifestyle X’enter Sudirman Lt. 7, Jakarta pada Rabu (29/5/2013).

Selain harus punya waktu banyak, seorang trader juga harus disiplin. "Jadi nggak bisa kalau nggak disiplin. Jadi harus kontinyu, nggak bisa kadang-kadang," katanya.

Tak hanya itu, seorang trader juga tidak boleh serakah. Artinya, jika target yang diinginkan sudah di depan mata jangan lantas menunggu sesuatu yang lebih besar lagi.

"Misalkan targetnya naik 1%, kemudian begitu sudah naik 1%, dia nunggu naik 1,5%, naik 2% akhirnya turun dan nggak jadi trading. Harusnya begitu sudah capai target langsung ambil," terangnya.

Ada lagi yang penting, ia menyebutkan dalam melakukan trading tidak boleh menggunakan feeling karena trading bukan sesuatu yang bisa diramal.

"Trading nggak boleh pakai feeling. Kalau setiap 5 menit ngecek berarti belum boleh trading. Jadi harus too cool. Saham naik nyantai saham turun nyantai. Nggak boleh ada ikatan emosi. Kalau itu sudah dikuasai baru boleh trading," katanya.

Sumber dari :
http://finance.detik.com/read/tips-cermat-jadi-trader-saham

Cara Mendapatkan Sumber Pendapatan Selain Dari Gaji Bulanan


Anda memiliki penghasilan tetap sebagai seorang karyawan? Selamat! Namun, kita juga harus teringat bahwa punya gaji artinya suatu hari akan pensiun. Sehingga, memiliki banyak sumber pendapatan, tak mau tergantung gaji bulanan, tentu lebih menyenangkan. Bagaimana cara keluar dari “zona nyaman”, lebih bebas secara finansial?

Plus & Minus Gajian

Kita bicara yang enak dulu saja ya….Hidup tergantung gajian itu positifnya adalah kepastian mendapatkan penghasilan rutin. Keteraturan memperoleh pendapatan tentu saja akan lebih membawa ketenteraman dan kenyamanan secara psikologis bagi setiap orang. Tidur anda akan lebih nyenyak bukan dengan tahu persis kapan pundi-pundi uang terisi kembali? Dari penghasilan yang rutin, anda juga akan lebih mudah untuk membuat anggaran bulanan dan mudah juga untuk mematuhinya.

Di lain sisi, anda umumnya akan memasuki area “comfort zone” alias zona kenyamanan sehingga mungkin peluang-peluang bisnis diluar sana dapat terlewat begitu saja. Selain itu, apa jadinya kalau perusahaan tempat anda menggantungkan hidup ternyata bangkrut dan tidak sanggup menggaji anda lagi? Umumnya, anda akan lebih masa-masa yang lebih sulit baik secara keuangan mau pun psikologis daripada mereka yang terbiasa berwirausaha.

Ada beberapa alternatif agar Anda tidak tergantung dengan gaji dan pekerjaan sehari-hari.

Pertama, anda dapat menginvestasikan sebagian uang yang dimiliki kedalam instrument-instrumen keuangan yang memberikan penghasilan rutin. Contohnya deposito.

Kedua, anda dapat berinvestasi di sebuah bisnis, seperti bisnis kuliner, bisnis cuci baju, bisnis fotokopi atau lainnya sehingga setiap bulannya anda memperoleh pemasukan dari omzet bersih bisnis. Bisnis ini dapat dijalankan oleh orang lain, dapat juga kongsian, atau dijalankan oleh anda sendiri bila tiba saatnya anda memutuskan berhenti bekerja menjadi pegawai.

Ketiga, anda dapat memanfaatkan harta yang dimiliki menjadi harta aktif. Contohnya, bila keluarga anda memiliki sebidang tanah yang menganggur, tidak ada salahnya mencari investor yang berminat membuat usaha kost-kostan. Anda dapat tentukan bagaimana mengambil keuntungannya.

Tentunya, untuk lepas dari ketergantungan pada gaji bulanan, kita mesti jeli melihat peluang/ membuat sumber-sumber pendapatan baru, bagaimana mengasah kejelian itu dan menakar bahwa peluang itu sesuai dengan keinginan dan kondisi kita? Kejelian melihat peluang bisnis memang tidak dapat dipungkiri kadang merupakan bakat seseorang. Namun, anda juga bisa lho mengasahnya. Salah satu cara yang paling mudah adalah banyak berinteraksi dengan para wirausahawan. Anda dapat terkejut bagaimana mereka dapat menjadikan aktivitas yang begitu sederhana menjadi sebuah usaha menjanjikan.

Selain itu, coba lihat kembali apa minat dan kesukaan anda? Bila anda suka memasak, anda dapat memulai usaha katering diet, usaha membuat kue ulang tahun dan cupcakes, dan banyak lagi. Suka berbelanja? Anda bisa lho membuat bisnis online yang menjual barang-barang yang tidak tersedia di toko-toko besar. Umumnya, barang tersebut diimpor atau bisa juga diproduksi sendiri.

Peluang-peluang bisnis juga dapat diperoleh dengan rajin membaca literature mengenai wirausaha. Anda akan memperoleh informasi mengenai peluang kerja-sama, atau bagaimana memulai usaha sendiri.

Tips hidup Tanpa Tergantung Gaji Bulanan
  • Punya niat dan kemauan yang kuat untuk memprioritaskan sumber daya yang dimiliki saat ini untuk diinvestasikan kedalam harta aktif mau pun bisnis.
  • Tulislah ide-ide usaha yang muncul agar dapat diwujudkan suatu saat nanti.
  • Berani menjalankan satu ide usaha. Kalau bukan anda yang memulai, siapa lagi?
  • Harus punya anggaran pengeluaran dan tahu mana yang harus diprioritaskan.
  • Usahakan secepatnya membayar hutang yang dimiliki.
  • Biasakan untuk menyisihkan pendapatan rutin untuk keperluan tabungan dan investasi masa depan.
Sumber dari :
http://zapfinance.co.id/2012/10/29/tidak-tergantung-gaji-bulanan/


Tips Mengelola THR Untuk Investasi



Lebaran pada dasarnya bukan lagi sekedar hari besar agama, tetapi juga sudah menjadi semacam budaya yang diinterprestasikan dengan berbagai cara. Pendeknya, pada saat lebaran, ada tambahan kebutuhan dana. Elvyn G. Masassya

THR (Tunjangan Hari Raya) pada dasarnya merupakan pendapatan atau bagian income Anda. Hanya saja, perolehannya setahun sekali. Dus, penggunaannya pun secara ideal mestinya mengacu pada konsep pendapatan secara umum, yakni untuk konsumsi, saving, dan investasi.

Tentu, jika jumlahnya tidak terlalu besar, mungkin agak sulit bagi Anda untuk memenuhi kaidah tersebut. Namun, bukan barti lantas Anda mengabaikannya. Paling tidak dengan tetap mengalokasikan THR untuk beberapa peruntukan. Bahkan, lebih dari itu, untuk masing-masing pos mesti pula dibuatkan detailnya. Ini jika Anda memang benar-benar ingin memanfaatkan THR secara optimal.

Memang, biasanya kebutuhan sebagian besar orang adalah bagaimana dapat menyiapkan sandang dan pangan yang memadai, lalu biaya untuk pulang kampung atau berlibur. Bagi komunitas tertentu, lebaran juga diartikan dengan membeli pelbagai perangkat rumah tangga baru, misalnya perabotan, sofa dan lain sebagainya. Ya, sebab, lebaran pada dasarnya bukan lagi sekedar hari besar agama, tetapi juga sudah menjadi semacam budaya yang diinterprestasikan dengan berbagai cara. Pendeknya, pada saat lebaran, ada tambahan kebutuhan dana

Masalahnya, apakah seluruh keinginan tersebut mesti dipenuhi dan menghabiskan THR yang Anda peroleh? Idealnya tidak. Seperti telah diutarakan di atas, THR merupakan bagian dari income tahunan Anda yang mesti dikelola dengan prinsip perolehan pendapatan. Konkretnya, Anda bagi dulu pendatapan Anda menjadi tiga bagian, yakni untuk konsumsi, saving, dan investasi. Bagaimana persentasenya? Terserah Anda, yang penting teralokasi untuk ketiga hal tersebut.

Mungkin Anda akan mempertanyakan, apakah mungkin THR yang cuma “segelintir” dapat digunakan secara ideal sebagaimana dipaparkan di atas? Jawabannya adalah dapat, sepanjang Anda tidak menafsirkan ketiga elemen di atas (konsumsi, saving dan investasi) secara harfiah. Apa maksudnya? Begini.

Konsumsi dalam arti sehari-hari adalah bagaimana Anda memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang dan papan (khususnya yang tidak diproduktifkan). Artinya, barang atau jasa yang Anda beli tersebut tidak akan menghasilkan pendapatan. Namun, dalam konteks konsumsi lebaran, sebenarnya jika Anda membeli barang-barang tertentu, seperti perabot, peralatan rumah tangga, maka konsumsi tersebut bisa digolongkan konsumsi yang semi produktif. Sebab, peralatan yang Anda beli akan menambah aset Anda. Di kemudian hari bisa saja peralatan tersebut Anda jual kembali. Ini sejalan dengan konsep bahwa pendapatan merupakan elemen untuk menaikan aset.

Namun, di sisi lain, pendapatan juga bisa diartikan sebagai sumber untuk mengurangi utang. Sebab, pada dasarnya, yang lebih penting bagi setiap orang adalah net asset-nya, yakni selisih antara uang dengan kekayaan.

Nah, dalam pengertian ini, mestinya sebagian THR yang Anda peroleh diperuntukkan bagi konsumsi dalam bentuk pembelian aset, agar aset Anda bertambah. Atau juga membayar utang Anda. Mana yang mau dipilih, terserah Anda. Namun yang pasti peruntukkan pertama THR mestinya adalah untuk salah satu dari kedua hal tersebut.

Dalam konteks yang lain, pendapatan juga merupakan sumber untuk membiayai konsumsi. Dalam kaitan dengan lebaran, maka tambahan konsumsi berupakan sandang dan pangan tentu wajar. Yang perlu dipertimbangkan disini adalah, apakah konsumsi yang hendak Anda penuhi tersebut merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan? Ada baiknya, Anda membuat prioritas dalam pemenuhan konsumsi tersebut. Misalnya, kebutuhan pakaian baru untuk anak-anak tentu lebih penting ketimbang buat Anda.

Lalu pengertian mengenai saving dalam kaitan dengan lebaran tentu saja yang dimaksud di sini tidak persis sama dengan pengertian saving sehari-hari, yakni untuk berjaga-jaga dalam jangka panjang. Saving dalam konteks lebaran lebih merupakan alokasi dana yang peruntukannya adalah untuk hal yang tidak terduga.

Misalnya, Anda hendak mudik lebaran. Tiba-tiba dalam perjalanan ada anggota keluarga yang sakit dan mesti dibawah ke rumah sakit. Maka saving yang Anda persiapakan dapat digunakan untuk keperluan membiayai anggota keluarga yang sakit tersebut.

Tentu saja masih banyak contoh-contoh lain. Namun, intinya, sebagian THR Anda mesti disisihkan dalam bentuk saving yang penggunaannya adalah untuk berjaga-jaga di masa lebaran.

Terakhir adalah investasi. Dalam kaitan dengan lebaran, investasi di sini sama sekali berbeda dengan investais yang mungkin selama ini Anda pahami, seperti membeli saham di pasar modal dan sejeninsnya. Investasi di sini adalah bahwa sebagian THR Anda sebaiknya dialokasikan untuk membayar zakat, fitrah, sumbangan, sedekah dan berbagai charity lainya.

Dengan kata lain, Anda menggunakan sebagian THR Anda untuk “long term investment” yang hasilnya akan Anda nikmati di saat Anda sudah berada di alam lain.

Kesimpulannya, kendati jumlah THR yang Anda peroleh mungkin tidak terlalu besar, namun keliru jika menganggap THR semata-mata hanya untuk konsumsi. Bagiamanapun THR adalah pendapatan yang penggunaannya pun mestinya mengikuti pakem yang lazim dalam pengelolaan pendapatan. 

Sumber dari :
http://www.infobanknews.com/thr-untuk-investasi

7 Cara Cari Uang Cepat


Lebaran sebentar lagi pasti kebutuhan makin meningkat. Tapi kalau saat ini kantong kita benar-benar kosong padahal pingin beli ini itu untuk menyambut hari raya, pasti bikin kepala cenut-cenut. Hhe.. 

Kalo kata neng Dea Ananda:
Baju baru Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama...


Maka, segeralah ambil langkah, cari uang cepat.

Dan dari sekian banyak cara cari uang cepat, saya menemukan sebuah referensi dari daily finance tentang cara cari uang cepat yang masih rasional untuk Anda jalankan. 
Ini dia 7 cara cari uang cepat versi daily finance.

  1. Cari kerja sampingan. Ide untuk kerja sampingan selalu saja jadi solusi yang paling akrab di telinga Anda. Tapi kalau Anda sedang cari uang cepat, kerja sampingan yang Anda cari bukan lagi pekerjaan yang biasa. Karena apapun pekerjaannya, Anda baru menerima gaji pada bulan berikutnya. Cari pekerjaan dengan potensi pendapatan dari tips yang besar, seperti pelayan resto tambahan di akhir minggu, supir taksi cadangan, penulis lepas, get paid to, bagi brosur di jalan atau sekedar antar pizza. 
  2. Jual karya Anda. Beberapa orang memang memiliki bakat tertentu dalam kerajinan tangan. Misal Anda pandai membuat bross, gelang manik-manik, syal atau pernak-pernik wanita lainnya. Coba buat karya Anda ini, lalu hasilnya upload di facebook atau BBM. Tawarkan hasil hand made Anda ke teman atau relasi Anda. Dalam waktu beberapa hari, Anda sudah bisa menghasilkan uang cepat. Selain itu, gunakan iklan gratis di internet. Anda akan terkejut dengan hasilnya !!
  3. Jual barang tak terpakai.
    Coba dech bongkar-bongkar seisi rumah Anda. Biasanya Anda akan menemukan “harta karun” yang ternyata masih punya nilai ekonomis. Mungkin stroller bekas anak Anda dulu, sepeda anak Anda yang sudah kekecilan atau gaun tidur cantik jaman Anda masih langsing. Buka penawaran di berbagai forum jual beli dan siap-siap menerima uang dalam beberapa hari. 
  4. Loak barang bekas. Kalau ternyata hasil bongkar-bongkar rumah tak membuahkan hasil, masak iya sih Anda nggak nemu barang bekas yang setidaknya bisa Anda loakan? Jangan salah, besi bekas atau kardus juga bisa menghasilkan uang. Kalau ternyata sudah habis, Anda bisa datangi tetangga Anda untuk Anda minta atau beli dengan murah untuk Anda jual lagi.
  5. Titipkan kue produksi Anda atau kenalan Anda. Lagi-lagi coba manfatkan kebisaan Anda. Bila Anda jago bikin kue atau penganan, ini bisa jadi potensi Anda untuk cari uang cepat. Coba saja Anda buat kue, donat atau kue fancy mochi misalkan. Lalu titipkan ke toko kelontong atau ke penjaja kue keliling. Anda juga bisa titipkan kue Anda ke kantin sekolah. Kalau Anda nggak bisa buat kue, cari kenalan, tetangga atau siapa saja yang bisa buat kue. Pesan ke dia, jual dan promosikan kemana saja. Anda tahu franchise tela-tela? Awalnya dia cuma goreng tela, sekarang punya outlet sampai ratusan.
  6. Sewakan aset Anda.
    Cari uang cepat dengan aset? Jelas bisa. Di rumah Anda ada sebuah kamar kosong? Atau Anda punya sebuah motor yang tidak setiap saat Anda pakai? Kenapa tidak Anda sewakan saja? Mau tahu siapa orang yang melakukan hal tersebut kemudian sukses? Mas Yanuar Gajaksahda! Pemilik rental mobil dan motor serta hotel ini awalnya cuman nyewain kamar kost dan pinjem motor temen yang nggak kepake buat dia rentalin. Sekarang? Beliau punya motor 30 biji lebih, mobil 3 buah, 1 usaha tour and travel serta hotel 1 ekor, eh salah… 1 buah.
  7. Usaha dropship tanpa jaminan. Salah satu model pemasaran yang belakangan muncul dan marak dilakukan adalah dropship tanpa jaminan. Contohnya bisnis kain premium katun dari Jepang. Anda cukup mendaftar dan ijin ke pemiliknya untuk memasarakan produknya, setelah itu Anda akan mendapatkan katalog produk online. Dari katalog ini Anda bisa melakukan penawaran melalui media BBM atau FB dan Twitter. Setiap pemesanan bersifat pre-order. Setelah terkumpul minimal 10 pesanan, barang akan dikirim ke alamat pembeli masing-masing oleh si perusahaan penyedia produk. Anda tidak modal buat kulakan barang dan biasanya pendaftarannya gratis.  
Sekian informasi tentang 7 ide cara cari uang cepat yang rasional yang bisa Anda terapkan. Prinsipnya adalah keberanian Anda, berani gagal dan terus mencoba. Ok gitu aja, selamat menebalkan kantong…
Sumber dari :
http://tipscarabuat.blogspot.com/cara-cepat-mencari-uang-ala-daily

Tips - Tips Perencanaan Keuangan


Ingin bebas krisis finansial? Ikuti strategi Perencanaan Keuangan dari Ligwina Hananto dalam bukunya "Plan Now"

1. Biasakan cermat mengelola uang, manfaatkan investasi berkala, tentukan tujuan finansial utama dan tujuan finansial lainnya.

2. Mulai mengubah dan mengaktifkan uang. Siapkan dana darurat dan dana cadangan, raih tujuan finansial terdekat -jangka pendek dan menengah- serta tambah dana darurat hingga lebih dari 12 bulan.

3. Alokasi dana pembelian aset aktif. Awali dengan menambah pengetahuan tentang keuangan, mencari lokasi informasi alternatif aset aktif (bisnis, properti, surat berharga) setelah itu baru action.

4. Menerima pendapatan pasif. Beli aset aktif dan mulailah menerima pendapatan pasif sehingga jumlahnya  - lama-lama -  setara dengan pengeluaran bulanan Anda. Sambil menunggu, teruslah mencari informasi alternatif aset aktif. Anda disebut mencapai tujuan finansial dan bebas secara finansial bila pendapatan pasif Anda lebih besar daripada pengeluaran bulanan. Hore!

Sumber dari :
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/keuangan/strategi.perencanaan.keuangan