Tuesday, 20 August 2013

Cara Merencanakan Keuangan Dan Disiplin Menjalankannya


Uang memang bukan segalanya, namun mengatur uang bisa membuat banyak mimpi tergapai.

Lain dulu, lain sekarang. Dulu menabung mungkin sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saat ini, Anda juga harus bekerja lebih keras agar bisa memenuhi tujuan-tujuan keuangan. Namun tahukah Anda, merencanakan keuangan dan disiplin menjalankannya akan meringankan beban finansial. Anda malah bisa membuat uang “bekerja“ untuk Anda atau mencapai financial freedom . Bagaimana caranya? Ikuti pembicaraan NOVA dengan Tejasari CFP  dari Tatadana Consulting  mengenai pentingnya merencanakan keuangan.

Q: Kenapa kita harus merencanakan keuangan?
 
A: Dengan merencanakan keuangan, kita akan lebih mengetahui seperti apa kondisi keuangan, apa tujuan keuangan yang ingin dicapai, dan bagaimana mencapai tujuan tadi. Jika kita tidak mempunyai rencana, uang tak jelas ke mana dan kadang-kadang kita memakai seenaknya saja. Misalnya, menabung tetap jalan, tapi pemakaiannya tidak jelas karena tidak ada perencanaan. Akhirnya setiap menabung, tahu-tahu uangnya selalu habis. 
 
Padahal dalam hidup ini terdapat kebutuhan-kebutuhan utama. Seperti jika mempunyai anak, orangtua harus membayar dana pendidikan. Atau, suatu hari kita akan pensiun dan pasti membutuhkan dana pensiun. Ada juga keinginan naik haji atau kewajiban menikahkan anak perempuan. Tujuan-tujuan ini seharusnya bisa kita cicil dari sekarang. Sementara jika kita tak memiliki rencana maka tujuan-tujuan tadi bisa membuat keuangan kita kacau. Akan lebih menyenangkan jika ada rencana dan dijalankan dengan disiplin.

Q: Betulkah merencanakan keuangan dengan investasi juga melindungi dari inflasi?
 
A: Inflasi adalah kenaikan harga dari suatu barang. Jika dijelaskan dengan sederhana, inflasi bisa diibaratkan dengan harga permen saat saya kecil, harganya Rp 5, sekarang harganya Rp 500. Ada kenaikan sebanyak 100 kalinya dalam beberapa tahun, tinggal dibagi, inilah inflasi. 
 
Cara melindungi diri dari inflasi adalah merencanakan keuangan dengan berinvestasi. Pilih yang keuntungannya lebih tinggi dari inflasi. Jadi kalau kita tahu inflasi tahun lalu sebesar 4% berarti kita harus berinvestasi dengan return lebih besar dari 4% agar nilai uang kita tidak turun. Untuk dana pendidikan yang kenaikan biayanya lebih tinggi dari inflasi (sekitar 15%), maka return 4% saja tidak cukup.

Q: Para financial planner  sering menggunakan asumsi inflasi yang besar. Apa tujuannya? 
 
A: Asumsi inflasi dipakai financial planner untuk memperkirakan berapa inflasi di masa depan. 
Financial planner selalu memakai angka (inflasi, Red) yang besar karena menggunakan rata-rata inflasi sebelumnya, yang kadang-kadang lebih tinggi dari kenyataan. Asumsi dibuat lebih besar juga karena kalau asumsinya kecil dan ternyata inflasinya jadi besar, tujuan tidak tercapai dan sudah telat, bahkan perlu dana lebih untuk menambah investasi. 

Q: Usia berapa seseorang harus mulai merencanakan keuangannya?
 
A: Idealnya setelah bekerja karena ketika kita mempunyai uang, kita harus bisa mengalokasikan uangnya untuk apa. 

Q: Jika demikian, berarti merencanakan keuangan tak harus selalu sesudah menikah atau bekeluarga? 
 
A: Justru lebih gampang jika kita memulai rencana saat single karena belum ada beban dan tanggungan. Apalagi mereka yang masih single cenderung lebih berani berinvestasi.

Q: Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah berkeluarga, tapi baru memulai merencanakan keuangan sekarang?
 
A: Tidak ada kata terlambat untuk merencanakan keuangan. Hanya ia harus menyesuaikan tujuan keuangan dengan kondisi keuangan yang sekarang. Tidak muluk-muluk. Istilahnya, enggak bisa setinggi langit lagi, mungkin setinggi menara.
 
Misalnya, baru merencanakan anak ke Amerika Serikat saat anak sudah remaja, ya bisa saja, tapi perlu dana yang cukup besar. Tapi, sebagai alternatif, masih bisa untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta yang bagus atau universitas di Australia, jika masih memungkinkan. Namun daripada tidak sama sekali, lebih baik segera rencanakan keuangan Anda dan keluarga.

Q: Orang sering bingung ketika ditanya tujuan keuangannya. Malah ada yang menjawab, “Ingin kaya.“ Padahal kaya kurang tepat jika didefinisikan sebagai tujuan keuangan. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan tujuan keuangan?
 
Tujuan keuangan bisa dibedakan antara yang single dan berkeluarga.
Biasanya, mereka yang single memang lebih bingung menentukan tujuan keuangan dibandingkan dengan mereka yang sudah berkeluarga. Bagi mereka yang single dan berkeluarga, tujuan-tujuan keuangan yang standar dan harus dimiliki adalah dana darurat. 
 
Untuk yang single, biaya pernikahan yang sering terlupakan karena dianggap urusan orangtua. Padahal belum tentu juga orangtua bisa membiayai. Lalu rumah, Anda harus ingat bahwa harga rumah selalu naik. Kalau dari single sudah bisa mencicil, itu bagus banget. Atau, setidaknya mempunyai down payment (uang muka) untuk rumah. 
 
Para lajang atau yang berkeluarga juga bisa menambah tujuan keuangan dengan menyiapkan dana pensiun. Ini, kan, investasi dalam jangka panjang. Bila dimulai dari muda, investasinya bisa dicicil dalam jumlah yang kecil. Kalau semakin tua, menabungnya semakin besar, kan? Satu lagi tujuan keuangan adalah dana rekreasi. Kenapa harus diangggarkan? Supaya kita tak berlebihan. Kadang kalau single, uangnya habis tidak jelas. Kalau direncanakan, liburan bisa lebih tertata karena kita sadar ada tujuan lain yang harus lebih diperhatikan.

Q: Apa saja asuransi yang harus dimiliki seseorang?
 
A: Asuransi harus dibedakan juga antara yang berkeluarga dan tidak. Bagi yang single, asuransi jiwa belum diperlukan. Jika asuransi kesehatan sudah ditanggung kantor, maka asuransi kecelakaan dan asuransi penyakit kritis (misalnya kanker, jantung, lupus) yang harus lebih diperhatikan.
 
Kalau sudah berkeluarga, wajib memiliki asuransi jiwa karena sudah memiliki anak. Siapa yang memiliki asuransi jiwa bisa ditentukan dari siapa yang menjadi pemberi nafkah utama untuk keluarga. Kalau suaminya bekerja, ya suami saja. Kalau dua-duanya bekerja dan penghasilan keduanya memengaruhi keuangan keluarga, ya berdua. 

Sumber dari :
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Konsultasi/Merencanakan-Keuangan-Tak-Ada-Kata-Terlambat 
 
 
 

Merencanakan Masa Depan Dengan Perencanaan Keuangan Yang Baik

 
Merencanakan masa depan bagi seseorang tentu tak lepas dari perencanaan finansial, dimana perlu adanya sebuah sistem perencanaan yang baik agar kebutuhan hidup di masa mendatang dapat dilalui dengan baik.

 "Makanya, perencaan keuangan harus dari muda seperi dana muda, dan yang paling ideal adalah melakukan perencanaan dana pensiun," ujar Financial Planner, Aidil Akbar, di Grand Ballroom A-B, Hotel Kenpinski, Jakarta, Rabu (12/9/2012).

 Menurut Aidil, butuh waktu setidaknya 10 hingga 15 tahun, sebagai jangka waktu yang ideal untuk mempersiapkan dana pensiun tersebut. "Biaya hidup yang semakin mahal, apa lagi orang muda mau berapa pun gajinya pasti habis, jadi kalau kita punya perencanaan yang baik itu akan sistematik dengan investasi," paparnya.

 Sementara itu, Aidil menganjurkan agar setelah menerima gaji, seseorang setidaknya perlu menyisihkan sebesar 30 persen untuk hutang produktif.

 Hutang produktif yang dimaksud Aidil adalah seperti Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) atau bisnis properti, dimana nilai asetnya selalu meningkat sehingga diharapkan dapat menambah modal usaha di masa yang akan datang.

 "Nah, untuk sisanya sebesar 70 persen dapat digunakan sebesar 50 persen untuk biaya hidup dan 20 persen untuk asuransi, karena jangan sampai kita kerja terlalu lelah, justru tidak memiliki perlindungan," simpulnya.

Sumber dari :
 http://ekbis.sindonews.com/perlu-ada-perencanaan-keuangan-sejak-muda

Sunday, 18 August 2013

Mencoba Berinvestasi Di Property, Kenapa Tidak?


Investasi properti adalah jenis investasi yang sangat digemari oleh para investor. Selain sifat dari investasi properti yang lebih sustainable, artinya dapat bertahan dalam waktu yang lama / berjangka panjang, investasi properti juga potensial. Kenapa potensial? Salah satu alasan kenapa investasi ini potensial adalah harga properti yang selalu naik setiap tahunnya merupakan sebuah keuntungan buat para investor di properti ini. 

Properti yang dimaksud adalah berupa rumah, perumahan, ruko, villa, tanah dan apartement. Pasar investasi properti di Indonesia lumayan menarik, investornya masih didominasi oleh para pengusaha properti lokal.

 Selain itu, kucuran dana asing juga terus mengalir deras ke bidang properti nasional. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa investasi properti sangat menguntungkan. Melihat peluang tersebut, sekarang bank juga melirik investasi properti yaitu dengan membuat kredit kepemilikan rumah dan kredit kepemilikan apartemen.

 Berbeda dengan investasi lain di properti anda bisa melakukan bisnis ini dengan membayar DP saja ( uang muka ) sebesar 20 s/d 30 % dari nilai propertinya, untuk sisanya bisa dibayar melalui pinjaman bank. Jadi dengan model minim anda sudah dapat menjalankan bisnis ini. Setelah itu anda bisa menjadikan properti yang sudah dibeli untuk mendapatkan passive income, bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menyewakan / mengontrakkan properti anda dengan nilai sewa yang lebih kompetitif supaya banyak konsumen yang tertarik. Dengan uang dari hasil sewa tersebut, anda bisa mendapatkan arus kas rutin yang digunakan untuk menjamin kestabilan keuangan anda. properti yang anda miliki semakin banyak maka semakin besar juga arus kas yang anda terima. 

Jika sistem diatas berjalan maka anda sudah bisa mempunyai sebuah bisnis yang beresiko kecil. selain untuk memenuhi arus kas, anda juga bisa mengambil keuntungan dari investasi properti dengan cara menyusun perhitungan yang jeli dan akurat agar keuntungan yang didapat maksimal. di Indonesia saja harga properti perumahan serta partemen sekitar 200 ribu hingga 250 ribu dollar dan bisa disewakan dengan nilai 20 25 juta rupiah perbulannya. Belum lagi dari tingkat okupansi properti seperti pada gedung-gedung perkantoran Jakarta yang mencapai 90%, hal ini menyebabkan nilai sewa yang melambung tinggi dengan cepat.

Berikut beberapa alasan yang bisa membuat anda tertarik menekuni investasi properti ini :
  • Properti merupakan komoditi investasi yang kuantitasnya terbatas
  • Kendali pasar ada pada tangan pemilik properti, artinya anda bisa mengatur harga dari properti tersebut. Misalnya anda bisa mendapatkan uang dari properti tanpa harus menjualnya yaitu dengan cara menyewakan / mengontrakkan.
  • investasi properti terbackup dari inflasi
  • properti 10 unit dapat dibeli dengan nilai 1 unit properti, misalnya ada rumah senilai 2 milyar, anda dapat membelinya dengan membayar uang mukanya saja misalnya 200 juta berarti 10 % dari harga asli, untuk sisanya dibiayai oleh pihak lain,. sedangkan untuk cicilannya dibiayai dari arus kas bulanan properti tersebut.
Sangat cocok untuk anda yang memiliki modal kecil namun menginginkan untung yang maksimal.

Sumber dari :
 http://pakarinvestasi.blogdetik.com/kelebihan-investasi-properti/

Beberapa Langkah Yang Bisa Membuat Kita Keluar Dari Pola Hidup Berutang


Utang saat ini menjadi gaya hidup kebanyakan orang, karena hampir separuh masalah yang ditemui pada saat melakukan Financial Check Up di AFC adalah besarnya Debt Service Ratio atau Rasio Cicilan. 

 Mari kita lihat beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membuat kita segera keluar dari pola hidup berutang:

 1. Jujur pada diri sendiri.
Banyak orang hidup melebihi kemampuannya, berpenghasilan Rp 5 juta namun hidup dengan life style Rp 10 juta, sehingga tidak heran cashflow minus setiap bulan ditutupi dengan hutang kartu kredit, utang KTA, dan berbagai macam utang lainnya. Mungkin orang lain bisa kita bohongi dengan penampilan kita, pakaian, mobil dan gadget yang kita pakai, tapi hanya diri kita yang tahu sebenarnya kondisi keuangan kita.

 2. Miliki Tujuan keuangan.
Saat diberi informasi bahwa untuk mencapai Dana Pensiun seorang klien, nilainya ternyata lebih kecil dari cicilan utangnya, ia menjadi lebih semangat untuk segera melunasi utang-utang konsumtif yang dimilikinya, begitu juga halnya dengan orang tua setelah tau berapa jumlah yang harus diinvestasi untuk Dana Pendidikan anaknya mereka menyesal telah menyia-nyiakan uang mereka untuk cicilan utang konsumtif selama ini.

 3. Cek Aset yang kita miliki.
Ternyata banyak juga orang yang memiliki aset untuk melunasi utangnya namun memilih tidak melunasi. Coba bayangkan jika kita memiliki uang tunai di tabungan sebesar Rp 50 juta, namun memiliki hutang kartu kredit Rp 10 juta? Kita hanya mendapatkan return 3-4% per tahun, namun harus membayar bunga 2-4% per bulan atau 24-48% per tahun! Gunakan aset untuk melunasi utang dan alihkan cicilan utang anda untuk tabungan dan investasi yang benar.

4. Belajar berkata tidak.
Penawaran saat ini ada di mana-mana, masuk melalui sms, blackberry messenger, telepon, dari mulai menawarkan barang, usaha/bisnis, kartu kredit, investasi, asuransi, hutang KTA, dsb. Pada saat kita tidak bisa menolak sesuatu yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan, maka konsekuensinya akan ada biaya yang harus dikeluarkan, dan bertambah sulit jika pembayaran dilakukan dengan autodebet credit card. Utang konsumtif bertambah tanpa akses dari kita dan rutin. Jadi tegaslah berkata tidak, lakukan transaksi di mana anda yang memiliki inisiatif.

 5. Belajar berkata cukup.
Jika membeli satu barang saja sudah cukup maka kita tidak perlu membeli selusin barang yang sama, dengan alasan selagi ada diskon bagi pemegang kartu kredit tertentu. Diskon akan selalu ada, jadi tidak perlu kuatir, karena buat apa menumpuk barang yang belum tentu digunakan dalam waktu dekat bahkan kemungkinan bisa expired karena terlalu lama disimpan, ditumpuk dalam lemari atau gudang.

 6. Tingkatkan penghasilan/income.
Terkadang untuk menjadi kreatif perlu tantangan, beban berat dari hutang sebenarnya bisa membuat seseorang menjadi lebih kreatif untuk mencari alternatif income tambahan yang bisa dimulai dengan usaha yang tidak memerlukan modal besar misal: bisnis online yang sesuai minat (fashion, photography, food, automotive, stamps, dll). 

 Jika kita bisa menyicil hutang konsumtif selama ini, yang based on experience jumlahnya tidak pernah kecil, maka sebenarnya tanpa anda sadari anda memiliki kemampuan besar untuk berinvestasi dan mencapai tujuan keuangan anda dimasa yang akan datang.

Kalau anda bisa hidup tenang tanpa utang kenapa harus berutang?

Sumber dari :
 http://finance.detik.com/read/6-langkah-bebas-utang

Perencanaan Dana Pensiun Sejak Dini Sangat Penting

 
Usai puluhan tahun bekerja banting tulang mencari uang, seseorang yang memasuki masa pensiun tentu ingin menikmati hidupnya dengan tenang. Selain selalu menjaga hubungan baik dengan anak dan cucu, ketenangan hati juga bisa dirasakan jika tak ada kendala dalam pemenuhan kebutuhan finansial. Maklum, sumber keuangan sudah mampet.

 Jika anak dan sanak keluarga masih bisa diandalkan untuk menopang hidup Anda, mungkin, masalah bisa teratasi. Namun, tentu, akan lebih membahagiakan jika Anda tetap bisa mandiri secara finansial dan tak memberatkan siapa pun, termasuk anak Anda. Kalau bisa, Anda justru memberikan kelebihan dari apa yang sudah ditanam selama masih produktif bekerja bagi anak dan cucu.

 Oleh karena itu, memikirkan pendanaan pensiun sangat penting. Para perencana keuangan pun kompak bilang, semakin cepat Anda mengalokasikan dana pensiun, besaran cicilan dana pensiun semakin kecil, tapi potensi dana yang terkumpul semakin besar. “Belum lagi soal compounding return (akumulasi keuntungan) yang didapat pasti makin besar,” ujar perencana keuangan dari Fahima Advisory Fauziah Arsiyanti, yang akrab disapa Zizi.

 Jadi, sebaiknya, begitu Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan, saat itu, Anda mulai merencanakan pembentukan dana pensiun. Sebagai contoh, Anda harus menyisihkan dana Rp 3,63 juta per bulan jika ingin pensiun di usia 55 tahun. Tapi, jika usia Anda sekarang masih 27 tahun, Anda cukup menyisihkan Rp 1,3 juta.

 Perencana keuangan dari AFC Financial Check Up Budi Triadi Pratama menyarankan, sebaiknya seseorang juga tak bergantung pada dana pensiun yang dikelola oleh instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Alasannya, rata-rata dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) di instansi pemerintah maupun swasta hanya ditempatkan pada ladang investasi yang konservatif dengan return yang tidak besar. 

 Bisa pilih instrumen yang lebih agresif

Padahal, investasi dana pensiun bisa memakan waktu hingga puluhan tahun. “Return kecil atau tetap dari investasi yang dipilih itu, mungkin, tidak akan menutup inflasi,” tandas Budi. Karena itu, dia menyarankan agar seseorang mengalokasikan sendiri dana pensiunnya di keranjang investasi yang bersifat lebih agresif dengan potensi return lebih besar. Di sisi lain, risiko investasi menjadi hal yang tak perlu dirisaukan karena rentang investasi yang panjang mampu menjembatani risiko tersebut.

 Perencana keuangan dari MoneynLove Financial Planning & Consulting Freddy Pieloor berpendapat sama. “Dana pensiun dari kantor dianggap sebagai bonus saja,” tuturnya. Saking pentingnya mengalokasikan dana pensiun pribadi, sejak dini pun, semestinya, setiap orang membentuk pola pikir bahwa alokasi dana pensiun adalah kebutuhan yang sengaja disisihkan dan bukan disisakan dari pendapatan yang diterima.

 Harapannya, dana yang disisihkan tersebut bisa menjadi pos pendapatan pengganti seperti yang biasa diterima semasa bekerja. Dana ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagai dana kesehatan. Maklum, asuransi kesehatan kadang membatasi usia klaim, yakni rata-rata hanya sampai usia 55 tahun.

 Di luar memenuhi kebutuhan sehari-hari, Budi menambahkan, dana pensiun bahkan bisa dirancang untuk pendanaan pelesir di hari tua. “Misalnya, ingin menikmati masa tua dengan keliling Eropa,” katanya.

 Nilai yang mesti disisihkan untuk pembentukan dana pensiuan, menurut para perencana keuangan, sangat relatif. Banyak faktor mempengaruhinya, seperti gaji saat ini, ekspektasi penghasilan dan gaya hidup saat pensiun kelak, karakter investasi Anda, serta lama melakukan penyisihan dana.

 Budi memberikan gambaran perhitungan alokasi dananya. Dengan gaji Rp 5 juta saat ini dan berkeinginan menikmati uang dengan nilai yang setara saat pensiun kelak, Anda harus menyisihkan dana Rp 1,3 juta per bulan dan diinvestasikan pada instrumen yang bisa menghasilkan return sekitar 25% per tahun. Sebab, Rp 5 juta saat ini, dengan tingkat inflasi rata-rata 12% per tahun, bakal setara Rp 119,42 juta pada 28 tahun mendatang.

 Freddy berpendapat, agar aman, seseorang bisa menyisihkan uang untuk dana pensiun dengan persentase minimal dua kali inflasi saat ini. Jadi, jika inflasi year on year (yoy) Januari kemarin 3,65%, dana yang Anda harus sisihkan adalah 7,3% dari total pendapatan. Jika bermaksud mengalokasikan dana pensiun untuk diri sendiri dan pasangan, besarannya dikalikan dua lagi atau menjadi 14,6%.

 Saran Zizi, sebaiknya kantong dana pensiun suami dan istri dipisahkan. Ini untuk mengantisipasi hal-hal tak baik yang mungkin terjadi, misalnya perceraian. Nah, berikut beberapa alat investasi yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk dana pensiun Anda.

 Reksadana saham

Setidaknya ada dua keuntungan yang bisa didapat dari investasi reksadana saham, yakni potensi return dari pergerakan harga saham dan kemudahan berinvestasi.

Berbeda dengan saham yang memerlukan penanganan lebih jeli, melalui reksadana, investasi Anda akan diracik oleh manajer investasi (MI). Potensi return pun cukup besar, bisa sampai 30% per tahun. Tapi, memang ada risiko nilai investasi bisa turun lantaran fluktuasi harga saham yang menjadi portofolionya.

Untuk investor berkarakter moderat, reksadana campuran bisa menjadi pilihan. Alasannya, risiko investasinya lebih kecil. 

 Saham

Selain menikmati kenaikan harga saham, investor bisa menikmati pembagian laba bersih perusahaan atau dividen. Namun, butuh analisis cermat agar tak salah pilih saham. Budi mengatakan, untuk memudahkan pemilihan saham, Anda bisa memilih saham-saham dengan kinerja fundamental bagus, seperti saham-saham perusahaan besar atau blue chips.

Namun, imbuh Freddy, harga saham blue chip, biasanya, mahal. Jadi, dia menyarankan agar membeli saham lapis kedua yang berpotensi memiliki pertumbuhan bagus untuk jangka panjang.

Mengenai pemilihan sektor nya, para perencana keuangan menyarankan Anda untuk melakukan diversifikasi. “Karena untuk dana pensiun, sebaiknya saham disimpan saja dan bukan untuk trading,” kata Freddy. 

 Obligasi

Surat utang (obligasi) jangka panjang di atas 15 tahun juga bisa menjadi pilihan. Sama seperti saham, sebaiknya, Anda menyimpan obligasi untuk jangka panjang, bahkan hingga jatuh tempo.

 Dari investasi obligasi, Anda bisa menikmati pembagian kupon atau bunga dan kenaikan harga. Untuk menekan risiko, para perencana keuangan lebih menyarankan Anda memilih obligasi pemerintah ketimbang korporasi.

Properti

Properti bisa menjadi sumber dana pensiun. Namun, menjual properti adalah pilihan paling akhir. Selain harganya tak murah, menjual properti juga tak gampang. Jadi, lebih baik menyewakan properti Anda untuk mendapatkan passive income.

Pemilihan jenis dan lokasi properti menjadi faktor krusial karena akan menentukan tingkat kenaikan harga dan permintaan sewa.

Nah, selamat merencanakan masa tua yang sejahtera!

Sumber dari :
 http://personalfinance.kontan.co.id/news/rencanakan-sejak-dini-agar-sejahtera-di-hari-tua