Tuesday, 21 May 2013

MENGENAL RESIKO DALAM BERINVESTASI DAN BAGAIMANA MENGELOLANYA

Investasi merupakan salah satu cara terbaik bagi Anda untuk membangun kekayaan dan membantu mencapai tujuan finansial. Namun, penting untuk disadari bahwa investasi bukanlah langkah paling "aman" karena ia tidak bebas resiko.

Resiko dapat didefinisikan sebagai ketidakpastian dan berhubungan dengan fluktuasi kinerja produk investasi atau kemungkinan turun atau hilangnya dana dari sebuah produk. Semua investasi memiliki resiko, namun dalam skala yang berbeda-beda. Semakin tinggi potensi imbal hasil yang diberikan, semakin tinggi pula resiko investasinya.

Walaupun setiap orang memiliki profil resiko yang berbeda-beda, kebanyakan investor pemula melupakan faktor ini ketika mereka berhadapan dengan tawaran untuk berinvestasi dan hanya fokus pada imbal hasil yang ditawarkan. Tidak jarang mereka harus menanggung kerugian besar, bahkan bangkrut atau terlilit utang akibat tidak mempertimbangkan faktor resiko ini. Menghindari resiko investasi mungkin merupakan langkah yang paling bijak, paling tidak sampai Anda belajar mengenal profil resiko dan bagaimana mengelolanya dengan tepat.

Untuk mengetahui bagaimana mengelolanya dengan baik, Anda harus mengetahui sumber-sumber resiko investasi Anda. Beberapa resiko tersebut antara lain :

1. Resiko Pasar
    Resiko yang berhubungan dengan naik turunnya nilai investasi akibat pergerakan pasar secara umum. Contohnya, jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak turun, maka portfolio saham atau reksadana saham kemungkinan besar akan menunjukkan pergerakan serupa.

2. Resiko Suku Bunga
    Resiko yang berhubungan dengan pengaruh perubahan suku bunga terhadap nilai investasi. Contohnya, jika terjadi kenaikan suku bunga, maka nilai investasi di produk obligasi atau reksadana pendapatan tetap akan cenderung bergerak turun.

3. Resiko Inflasi
    Resiko berkurangnya daya beli akibat kenaikan harga. Contohnya, jika meletakkan sebagian besar portfolio dalam tabungan atau deposito, dalam jangka panjang daya beli uang Anda berkurang akibat terjadinya inflasi walaupun jumlah uang tidak berkurang.

4. Resiko Nilai Tukar
    Resiko yang berhubungan dengan nilai tukar mata uang. Contohnya, jika berinvestasi dalam produk yang menggunakan mata uang USD dan terjadi penurunan nilai Rupiah terhadap USD, nilai investasi Anda dalam Rupiah pun akan berkurang.

5. Resiko Kredit
    Resiko yang berhubungan dengan kemungkinan gagal bayar. Contohnya, jika membeli Reksadana Pendapatan Tetap yang salah satu atau beberapa obligasi di dalamnya mengalami gagal bayar, maka nilai investasi Anda akan menurun.

6. Resiko Bisnis dan Karakter
    Resiko yang berhubungan dengan perputaran dana yang Anda investasikan dan karakter dari pengelola dana tersebut. Resiko ini terutama berhubungan dengan resiko berinvestasi di produk non-keuangan atau produk alternatif seperti investasi di MLM, koperasi, unit-unit usaha berbasis emas, dan lain-lain. Contohnya, jika berinvestasi di sebuah perusahaan atau perorangan yang menjalankan usaha peternakan lele, ada baiknya Anda melakukan uji karakter atau benar-benar terjun langsung memantau bisnisnya untuk mengurangi resiko dana dilarikan.

Walaupun resiko terdengar menakutkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengelola resiko investasi Anda, antara lain sebagai berikut :

1. Profil Resiko
    Untuk mengetahui profil resiko, Anda dapat mengisi online survey yang dilakukan oleh bank atau manajer investasi. Secara sederhana, profil resiko adalah seberapa tenang Anda menghadapi fluktuasi nilai suatu investasi. Jika merasa tidak nyaman dengan jenis investasi tertentu atau resiko yang harus Anda ambil untuk berinvestasi pada sebuah produk, jangan breinvestasi dalam produk tersebut.

Profil resiko ini bisa berubah tergantung situasi pribadi dan keuangan Anda saat ini. Sebagai contoh, untuk Anda yang berkeluarga dan memiliki anak yang akan masuk kuliah tahun depan, tentu tidak ingin dana yang sudah dipersiapkan selama bertahun-tahun berkurang sedikit pun apalagi sampai hilang. Dalam hal ini, dana tersebut sebaiknya tetap ada di deposito atau tabungan Anda sampai waktu pendaftaran masuk sekolah anak.

Beberapa orang tetap dapat tidur dengan nyenyak walaupun nilai investasi mereka naik turun. Ada yang akan mengalami insomnia jika terjadi penurunan pada nilai investasinya. Maka, ketahui profil resiko ini sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi dalam produk tertentu. Berapa pun imbal hasilnya tidak akan sebanding jika dalam perjalanannya Anda merasa sangat tidak nyaman.

2. Diversifikasi
    Jangan meletakkan semua telur Anda dalam satu keranjang. Ungkapan ini tepat sekali untuk menggambarkan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi sebagai salah satu cara untuk mengelola resiko. Sebar investasi Anda ke dalam berbagai golongan investasi seperti deposito, obligasi, emas, properti, saham, dan lain-lain. Semakin besar aset Anda, idealnya portfolio semakin bervariasi.

Jarang sekali, investasi dari golongan yang berda bergerak ke arah yang bersamaan. Misal, ketika terjadi krisis di tahun 1997, pasar saham mengalami penurunan sampai dengan 60%, sementara bunga deposito meroket hingga 70-an persen. Dalam contoh ini, jika meletakkan dana di keduanya, penurunan nilai investasi Anda di satu golongan investasi dapat diimbangi oleh kenaikan nilai investasi di golongan lainnya. Tidak ada patokan khusus mengenai komposisi diversifikasi yang paling sesuai. Saran saya, sesuaikan dengan profil resiko, usia dan kondisi finansial Anda.

3. Jangka Waktu
    Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin rendah resiko investasi yang harus dihadapi karena dalam investasi, waktu adalah sahabat terbaik Anda. Sebagai contoh, untuk mempersiapkan dana pensiun di usia 55 tahun dan standar hidup Rp 5 jt per bulan, hanya membutuhkan investasi sebesar Rp 600rb per bulan di reksadana saham jika Anda berusia 30 tahun, sedangkan untuk Anda yang berusia 40 tahun, angka kebutuhan investasinya menjadi 2,6jt per bulan pada produk sejenis.

4. Pengetahuan
    Ada baiknya meluangkan waktu untuk belajar mengenal produk-produk investasi karena semakin Anda memahami investasi, semakin andal pula kemampuan dalam memilih investasi dan komposisi yang sesuai untuk kebutuhan Anda. Sebagai permulaan, Anda bisa mampir ke blog saya di www.tjanbudi1028pru.blogspot.com untuk membaca artikel-artikel sederhana mengenai investasi dan perencanaan keuangan.

Semoga Bermanfaat,




 

SELUK BELUK TENTANG REKSADANA

Reksadana, menurut Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 Bab I pasal 1 ayat 27, merupakan kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor) yang kemudian diinvestasikan kembali oleh manajer investasi dalam bentuk portofolio efek (portofolio investasi) yang bisa berbentuk saham, obligasi, deposito, dan jenis instrumen investasi lainnya.

Saat ini reksadana umumnya bersifat terbuka, diikat dalam bentuk kontrak yang disebut dengan kontrak investasi kolektif (KIK) antara perusahaan manajer investasi dengan bank kustodian, tempat di mana investor ingin menempatkan dananya pada produk investasi. Sedangkan manajer investasi adalah pengelola dari produk reksadana.

Manajer investasi bertugas untuk :
- membuat alokasi aset bagi reksadana yang dikelola
- mengelola portfolio investasi
- menyusun dan mengimplementasikan strategi investasi
- meminimalisasi resiko investor
- melakukan penyesuaian portfolio investasi dengan perubahan yang terjadi pada pasar investasi

Sementara Bank Kustodian bertugas :
1. Menyimpan Aset Reksadana
2. Administrasi Reksadana
3. Menghitung Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana

Dalam membeli reksadana, Anda perlu mengetahui berbagai resiko yang mungkin akan timbul, supaya Anda berhati-hati dalam memilih jenis reksadana.

Beberapa resiko reksadana adalah sebagai berikut :

a. Resiko Default
Merupakan resiko yang paling fatal. Reksadana berinvestasi pada kumpulan surat berharga yang dikenal dengan istilah portfolio efek. Setiap instrumen investasi ini memiliki resiko berbeda, salah satunya adalah tidak kembalinya dana investor yang sudah ditempatkan.

b. Tingkat Pengembalian Fluktuatif atau turunnya NAB
Surat berharga diperdagangkan di pasar, baik di bursa maupun secara langsung, sehingga memiliki resiko naik atau turun tergantung dari permintaan dan penawaran surat berharga tersebut. Hal ini berakibat NAB dari unit penyertaan akan turun atau naik.

c. Resiko Likuiditas
Hal ini merupakan komponen yang penting, karena tanpa likuiditas, investor bisa mengalami kesulitan dana dalam bentuk kerugian tunai akibat tidak bisa menjual portfolio investasinya. 

d. Resiko Pasar
Resiko pasar dapat terjadi apabila harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Resiko pasar yang terjadi, secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB pada unit penyertaan mengalami penurunan.

Reksadana terbagi menjadi beberapa jenis :

1. Reksadana Pasar Uang
Reksadana yang menempatkan 100% dana pada instrumen pasar uang, yaitu instrumen utang jangka pendek yang kurang dri 1 tahun, misalnya sertifikat Bank Indonesia, deposito, atau obligasi yang akan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Produk ini ditujukan untuk jangka pendek, karena tidak berfluktuasi secara tajam baik naik atau turunnya NAB pada unit penyertaan.

2. Reksadana Pendapatan Tetap
Manajer investasi menggunakan dana investor untuk diinvestasikan pada obligasi atau surat utang. Manajer investasi akan mendapatkan bunga secara rutin. Hal ini yang dimaksudkan "pendapatan tetap" yaitu nilai bunga yang diterima manajer investasi dari penerbit obligasi selalu tetap, sampai jatuh tempo. Obligasi biasanya juga diperjualbelikan di pasar modal layaknya saham. pada saat tertentu harga obligasi naik, pada saat yang lainnya harga turun.

Fluktuasi ini akan mempengaruhi NAB reksadana yang akhirnya mempengaruhi harga unit penyertaan. Reksadana pendapatan tetap  bisa dijadikan alat investasi jangka menengah yaitu 5-10 tahun, hal ini untuk menghindari kerugian akibat fluktuasi harga obligasi dalam jangka pendek.

3. Reksadana Campuran
Manajer investasi menggabungkan dana untuk investasi pada instrumen saham, obligasi, deposito secara bersama-sama. Dengan reksadana campuran, investor berkesempatan mendapat imbal hasil dari berbagai macam instrumen investasi.

Biasanya tingkat keuntungan yang diberikan reksadana campuran bisa lebih tinggi dibandingkan reksadana pasar uang maupun reksadana pndapatan tetap, terkadang bisa hampir menyamai imbal hasil di reksadana saham. Resiko yang kemungkinan terjadi tidak terlalu besar dibandingkan pada reksadana saham. Hal ini dikarenakan manajer investasi bisa secara mudah memutar dana di segla situasi.

4. Reksadana Saham
Manajer investasi menempatkan dana investor dalam instrumen saham. NAB reksadana saham bergerak seiring perubahan harga saham-saham yang telah dibeli manajer investasi di bursa. Jika harga saham naik, maka NAB meningkat. Demikian juga sebaliknya apabila harga saham turun, NAB menjadi turun. Hal ini mengakibatkan harga unit penyertaan menjadi fluktuatif. Apabila unit penyertaan dijual ketika harganya lebih rendah dibandingkan saat membeli, maka terjadilah kerugian. Reksadana ini cocok untuk jngk panjang, dianjurkan di atas 10 tahun, karena secara umum harga saham meningkat, sehingga diharapkan NAB reksadana juga mengalami peningkatan.

  


MEMBANGUN KEKAYAAN LEWAT REKSADANA DAN PROTEKSI ASET

Cara yang efektif untuk membangun kekayaan adalah mengalahkan tingkat inflasi melalui reksadana dalam jangka panjang dan memproteksinya dengan asuransi jiwa dan kesehatan.

ADA TIGA LANDASAN UTAMA dalam mempelajari wealth management. Bagaimana melindungi dan menjaga kekayaan ( Wealth protection and Preservation ), menumbuhkan kekayaan ( Wealth Accumulation and Growth ), dan bagaimana mendistribusikan kekayaan dan menghadapi transisi dari bekerja menjadi pensiun ( Wealth Distribution and Transition ). Membangun kekayaan tidak selalu identik dengan berinvestasi pada surat berharga. Membangun kekayaan dapat diakukan dengan cara menempatkan uang pada deposito, membeli asuransi, berinvestasi pada instrumen saham, obligasi, reksadana, valas, properti atau bahkan berspekulasi pada instrumen yang memiliki resiko tinggi seperti index dan Futures trading.

Bagaimana cara membangun kekayaan tentu disesuaikan dengan tingkat pengetahuan, ketersediaan dana dan waktu yang dimiliki masing-masing orang. Meski demikian, banyak dari alternatif instrumen yang disebutkan di atas mengharuskan masyarakat untuk memiliki tingkat pengetahuan yang memadai dan menyisihkan waktu yang cukup agar bisa mendapatkan keuntungan. Jika tidak, bukannya untung, malah buntung yang didapat.

Dari alternatif instrumen investasi di atas, instrumen investasi yang paling komplit dan sesuai untuk masyarakat dengan karakter pengetahuan dan waktu yang terbatas adalah reksadana. Mengapa demikian? Mari kita ulas keunggulan Reksadana. Reksadana dikelola oleh para profesional yang menguasai tentang seluk beluk berinvestasi di pasar modal. Resiko Investasi diminimalkan melalui diversifikasi. Reksadana adalah instrumen yang likuid dengan pencairan dana maksimum tujuh hari kerja.

Reksadana lebih aman karena disimpan di Bank Kustodian. Regulasi yang ketat dari Bapepam-LK dan Bank Indonesia ( jika dijual melalui Bank ). Akses ke saham dan obligasi dengan minimum investasi kecil ( mulai dari Rp 100.000 ) dan fasilitas investasi berkala membantu supaya investor lebih disiplin. Selain itu, reksadana terbebas dari pajak kupon dan capital gain atas investasinya di obligasi.

Secara umum, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk berinvestasi di reksadana. Cara yang pertama yaitu investasi semua sekaligus di awal atau dikenal dengan metode investasi lump sum. Metode ini cocok untuk investor yang memiliki dana besar. Sementara untuk investor yang tidak memiliki dana besar, dapat memilih alternatif cara kedua dengan cara mencicil setiap bulan atau dikenal dengan istilah Rupiah Cost Averaging ( RCA ).

Kedua cara tersebut, dalam jangka panjang memang akan memberikan keuntungan bagi investor. Namun secara logika, tingkat return yang diberikan dengan metode lump sum tentu akan lebih tinggi dibandingkan metode RCA yang memasukkan investasi secara berkala. Keunggulan metode RCA, membantu menurunkan resiko investasi. Pada saat bursa saham mengalami penurunan, investor akan diuntungkan karena masih memiliki dana untuk berinvestasi sehingga mendapatkan rata-rata harga yang lebih murah. Selain itu, investasi dengan metode RCA membantu investor untuk melatih diri agar menjadi lebih disiplin.

Investor dapat memilih cara investasi yang paling sesuai dengan kondisinya masing-masing. Kedua cara ini secara efektif dapat meningkatkan kekayaan investor secara signifikan dalam jangka panjang. Untuk membuktikan hal tersebut penulis melakukan simulasi investasi suatu reksadana saham dengan dua metode yaitu lump sum dan RCA.

Metode Investasi LUMP SUM                Rencana Cerdas                           IHSG

Nominal Investasi 31 Des ' 00                Rp    100.000.000              Rp  100.000.000
Nilai Investasi Akhir 31 Des ' 09             Rp 1.048.810.000             Rp   608.750.000
Keuntungan 9 Tahun                                 Rp    948.810.000              Rp    508.750.000
Keuntungan 9 Tahun (%)                                        948,81%                          508,75%


Metode Investasi Rupiah Cost Averaging      Rencana Cerdas                IHSG

Nominal Investasi Bulanan                               Rp   1.000.000         Rp   1.000.000
Frekuensi Investasi                                                     108 kali                    108 kali
Total Investasi                                                  Rp  108.000.000         Rp  108.000.000
Nilai Investasi Akhir 31 Des ' 09                   Rp  450.640.765         Rp   342.077.456
Keuntungan 9 Tahun                                       Rp  342.640.765         Rp   234.077.456
Keuntungan 9 Tahun (%)                                         317,26%                       216,74%

Simulasi dijalankan dengan menggunakan data reksdana saham selama 9 tahun dari Desember 2000-Desember 2009. Supaya lebih riil, reksadana saham yang digunakan menggunakan contoh sebenarnya yaitu Rencana Cerdas ( Reksadana yang diterbitkan salah satu Perusahaan Asset Management di Indonesia ). Sebagai pembanding digunakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Karena Manajer Investasi dianggap sebagai orang yang lebih memahami pasar modal, maka sudah seharusnya tingkat investasi yang dihasilkan juga lebih besar dibandingkan jika berinvestasi langsung pada IHSG. Hasil simulasi dapat dilihat pada tabel.

INVESTASI DILAKUKAN SETIAP AKHIR BULAN

 Dari hasil simulasi di atas dapat dilihat bahwa dalam jangka panjang, hasil investasi dari reksadana mengalahkan kinerja IHSG. Kedua cara ini juga terbukti efektif, karena hasil yang dicapai sudah melalui berbagai masa, baik bullish (naik) ataupun bearish(turun). Return investasi yang dicapai juga cukup besar 508% untuk strategi investasi lump sum dan 317% untuk rupiah cost averaging.

Hasil simulasi di atas membuktikan, salah satu cara yang efektif untuk membangun kekayaan (mengembangkan aset pokok kita dengan mengalahkan tingkat inflasi selama periode pengumpulannya) melalui investasi reksadana. Kunci sukses dalam membangun kekayaan melalui reksadana adalah investasi dalam jangka panjang, investasi secara regular/disiplin, dan ayng terpenting memilih produk yang tepat dengan track record yang cukup panjang dan baik dari pengelolanya. Apapun metode investasi yang akan dilakukan akan sangat bermanfaat untuk mengembangkan aset kita dan yang terpenting lagi adalah memproteksi aset-aset kita dengan asuransi jiwa.



Monday, 20 May 2013

PERBEDAAN ANTARA REKSADANA DAN ASURANSI JIWA UNIT LINK


Dari beberapa saran yang saya baca, untuk lebih mengoptimalkan
investasi, lebih baik kita memisahkan antara produk asuransi dan produk
investasi (dalam hal ini reksadana), karena dengan demikian kita bisa
lebih memantau investasi kita. Gabungan produk investasi dan asuransi
biasa disebut unit link, inipun juga tidak salah, khususnya buat yang
malas memantau dan mondar mandir ke bank.

Kurang lebih begini ni perbedaan keuntungan dan kerugian unitlink & reksadana :

Keuntungan Unit Link :
  1. Praktis, tinggal pencet no telp bank/agen penjual, staf marketing dengan rayuan mautnya akan segera meluncur ke tempat anda.
  2. Termasuk apply di rumah anda !
  3. Satu paket, jadi gak usah ribet beli asuransi dan investasi.
Kerugian Unit Link :
  1. Biasanya dua tahun pertama, iuran digunakan untuk premi asuransi
    (otomatis uang anda hilang !), baru tahun berikutnya bisa cuti premi
    dan dihitung sebagai investasi (tapi ada beberapa unitlink yang
    langsung memperhitungkan sebagai investasi dari tahun pertama,
    tetapi....setelah 2 tahun baru bisa kita tarik dananya)
  2. Hasil pengembangan investasi terbatas, kita tidak bisa memantau
    kinerja manajer investasi (MI) setiap saat kita ingin. Dan bila kinerja
    MI tidak bagus, kita gak boleh protes !
  3. Resiko investasi sama besar dengan reksadana.
Kerugian Reksadana :
  1. Kalau anda ingin mengetahui reksadana anda harus cari informasi
    sendiri sebanyak mungkin, minimal harus dateng ke Bank dan ketemu
    marketing reksadana di bank. Tapi kalau anda mengharapkan marketingnya
    bisa tinggal telpon dan dia meluncur langsung ke tempat anda (seperti
    halnya unitlink)...sepertinya saya belum pernah denger.
  2. Tidak ada tanggungan asuransi.
Keuntungan Reksadana :
  1. Minimal dengan belajar di awal sebelum berinvestasi, kita bisa lebih
    mengetahui resiko dari berinvestasi itu sendiri. Istilahnya, ibarat
    kita berlari, memang kita akan lebih cepat sampai tujuan, tapi dengan
    mengetahui bahwa ternyata resiko lari itu jatuh, dengan demikian kita
    jadi lebih waspada, berlari dengan pasang mata dan hati2.
  2. Kita bisa ikut aktif memantau perkembangan investasi kita. Kalau
    seumpama kinerja manager investasi kurang baik, kita tinggal pindah
    kelain hati.
  3. Untuk kondisi emergency, kita bisa mencairkan dana setiap saat
    (kurang lebih dana diterima 1 minggu dari waktu pencairan/redeem)
  4. Sekarang reksadana bisa dimulai dari RP. 100 ribu, jadi terjangkau
    oleh semua kalangan (termasuk saya yang cuma ibu erte, hehehe...)
  5. Beberapa bank sudah seperti supermarket reksadana (kita tinggal
    duduk manis di depan komputer, dan beli secara online, contohnya,
    commbank, sorryyy...nyebut merk, sayangnya redeem/pencairannya belum
    bisa online). Jadi resiko malu bawa duit 100 ribu ke bank untuk beli
    reksadana bisa diminimalisasi, hehehe...(salah satu keuntungan juga !)
  6. Keuntungan terakhir (sementara ini), dengan mencari informasi
    sebanyak mungkin tentang reksadana dengan gratis, otomatis anda
    browsing kan di web, dan ketemulah web portal reksadana ini, disini
    selain ilmu kita juga bisa cari temen, sodara, or ilmu-ilmu yang lain
    diluar reksadana (keuntungan non material lah). 
Untuk Kpnsultasi Silakan Menghubungi :

Tjan Budi Tanudjaja
HP          : 0812 1624 2520
Flexi        : 031 781 30181
Email       : tjanbudi1028pru@gmail.com

Sunday, 19 May 2013

BERINVESTASI MELALUI REKSADANA SAHAM

Reksadana saham merupakan jenis investasi yang dianjurkan untuk dibeli pada 2013. "Kami lihat tahun ini potensi besar reksadana saham lebih besar daripada SUN maupun obligasi," kata Director Retail Investment & Customer Treasury Head Citi Indonesia Harsya Prasetyo di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, hal ini karena potensi penghasilan dari instrumen investasi yang berupa obligasi dan surat utang negara (SUN) semakin rendah. Pada 2012, potensinya masih cukup tinggi, namun akan semakin turun tahun 2013.

"Dengan SUN yang sangat rendah ini memang yield-nya bisa turun seberapa rendah lagi?" katanya.

Bagi masyarakat yang belum siap untuk membeli reksadana saham karena risikonya yang tinggi, menurut Harsya, investor bisa membagi investasi dalam dua strategi yakni membeli reksadana inti dan taktis.

Reksadana taktis lebih tinggi pergerakan nilainya sehingga bagi investor yang konservatif bisa membeli reksadana inti dengan porsi yang lebih banyak daripada reksadana taktis. "Penempatan pada core harus lebih besar daripada taktisnya," katanya.

 Dengan edukasi yang berkesinambungan kepada investor, maka jenis investasi yang akan diambil selanjutnya akan bergantung pada profil risiko dari pribadi investor itu sendiri. Melalui proses tersebut, diharapkan investor bisa lebih mengerti tentang keputusan investasi yang akan diambilnya.

"Dengan pengetahuan yang bertambah, porsi ke saham bisa ditingkatkan secara perlahan, diharapkan ujung-ujungnya investor punya risk profil yang cocok sesuai tujuan dia," katanya.

Harsya menyarankan agar investor secara bertahap meningkatkan investasinya dengan membeli reksadana pasar uang dengan risiko yang kecil dan selanjutnya bisa membeli reksadana saham yang memiliki potensi kenaikan yang tinggi dalam jangka panjang.