Wednesday 26 June 2013

"BERINVESTASI DI SAHAM" ADALAH SENI


Bahasan tentang potensi untung ataupun potensi rugi di pasar modal, yang telah sedikit disinggung hanyalah bagian kecil dari seni berinvestasi di pasar modal, khususnya di saham. Seni? Ya, seni. Sebab, untuk bisa menjadi pemain alias investor yang sukses di pasar modal khususnya pasar modal seperti Bursa Efek Indonesia tidak cukup hanya dengan kompetensi, pengetahuan, skil, ataupun keberanian. Namun juga dibutuhkan seni.

Kenapa? Karena di pasar modal, kerap terjadi anomali yang tidak bisa diduga oleh siapa pun, termasuk analis kondang sekalipun. Misalnya, kondisi pasar saham dunia dan regional tengah mengalami penurunan, kondisi politik di dalam negeri dan juga perekonomian tidak terlalu mendukung, namun tetap saja ada saham-saham yang mengalami kenaikan harga, dan bahkan indeks saham gabungan pun bisa melonjak. Demikian juga sebaliknya. Inilah, yang disebut dengan anomali, yang hanya bisa disikapi, jika investor menggunakan "sense" seni dalam bermain di pasar modal.

Seni berinvestasi di pasar modal, tentu berbeda dengan investor institusi yang memiliki dana besar dengan investor retail yang dananya terbatas. Bahasan dalam tulisan ini hanya akan difokuskan pada investor retail, yang tujuannya berinvestasi di pasar modal adalah untuk mendapatkan income tambahan atau pendapatan sampingan dari hasil investasinya. Artinya, kalaupun seluruh modal yang ditanamkan amblas, maka si investor tidak serta-merta jatuh miskin. Namun, jika dana yang "dimainkan" bisa mereguk keuntungan, maka bukan tidak mungkin menjadi kaya raya. Lantas bagaimana melakukan semua itu?

Pertama, dana yang ditanamkan di pasar modal, mestilah bukan dana yang peruntukannya untuk uang belanja rumah tangga, melainkan sebagai bagian investasi di samping investasi yang lain, yang memiliki resiko rendah dan moderat. Kalau Anda memiliki dana sebesar Rp 100, maka dana yang digunakan untuk jual beli saham, cukup 25 persen atau separuhnya saja, bergantung pada karakteristik personal Anda. Jika Anda cukup "kuat" menanggung resiko, maka dana yang ditempatkan bisa lebih besar.

Kedua, investasi di pasar modal, memiliki tujuan jangka pendek untuk mendapatkan gain dari jual beli saham, dan atau juga mendapatkan deviden bersama dengan potensial gain, jika Anda memegang saham tersebut untuk jangka menengah panjang. Nah, dalam hal ini, dana yang Anda alokasikan, sebaiknya dipastikan peruntukannya, apakah untuk jual beli saham sehari-hari atau beli saham lalu dipeang untuk kurun waktu yang cukup lama. Lazimnya, tujuan pembelian saham pun bisa dibagi, yang peruntukannya untuk "perdagangan" sehari-hari maupun untuk jangka waktu di atas 1 tahun.

Ketiga, bertransaksi untuk perdagangan dan untuk jangka panjang, hakikatnya tetap sama, yakni memilih saham-saham yang memiliki fundamental bagus, dalam arti perusahaan yang menjadi emiten memiliki prospek usaha dan harga sahamnya masih under value. Artinya, target price dari saham tersebut untuk beberapa waktu ke depan berpotensi masih lebih tinggi dari harga saat ini. Namun, dalam praktiknya bukan tidak saham-saham yang sebenarnya secara fundamental sudah mencapai "harga wajar" namun ketika ditransaksikan bisa saja harganya tetap meningkat. Nah, untuk saham-saham semacam ini hanya pantas masuk dalam portfolio perdagangan atau trading. Bisa beli hari ini jual besok, dua hari kemudian atau malah pada hari yang sama. Dan Anda akan mengeruk keuntungan. Bagaimana mungkin? 

Di sinilah seninya.
Seni "trading" saham sedikit berbeda dengan investasi saham untuk jangka menengah panjang, kendati prinsip dasarnya sama, yakni, mesti memiliki fundamental value yang bagus. Namun, dalam "trading", naik turunnya harga saham, tidak semata-mata karena faktor fundamental, tetapi juga ada unsur sentimen dan aspek-aspek yang sulit dianalisis secara matematika, karena lebih mengedepankan persepsi dan ekspektasi.

Nah, untuk bisa mendapatkan keuntungan dari transaksi "trading", maka bisa dilihat dari pergerakan harga saham ketika pasar baru dibuka. Sebagai investor retail, tentu Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk menggerakkan harga saham. Namun ibarat "ikan teri", tentunya bisa nebeng di pergerakan "ikan paus". Dengan kata lain, jika Anda yakin bahwa saham yang Anda beli akan bergerak harganya karena pada saat pasar dibuka, harga saham tersebut langsung bergerak, yang berarti ada demand yang besar, maka Anda bisa ikut serta membeli saham tersebut.

Akan tetapi, di sisi lain, Anda tentu tidak tahu apakah si investor besar akan memegang saham tersebut dalam jangka waktu yang lama atau kemudian menjualnya lagi, setelah memperoleh potensial gain, dan melakukan profit taking. Di sinilah kerap terjadi "musibah" bagi investor retail, karena terlambat menjual. Oleh karena itu, agar Anda tidak terjebak pada situasi semacam itu, maka jika Anda "bermain" saham untuk trading, maka tidak boleh serakah. Konkretnya, jika harga di pasar sudah lebih tinggi dibandingkan harga beli, maka sesegera mungkin saham tersebut dijual lagi. Tidak perlu kecewa kalau ternyata harga saham yang Anda jual terus melambung. Ingat, Anda adalah investor retail, yang cuma mengikuti "paus". Tentu harus tahu kapan "menyingkir" agar tidak terhimpit "paus" kalau tiba-tiba sang "paus" putar haluan.

Itu satu seni yang bersifat sederhana. Apakah masih ada seni-seni yang lain? Ada. Anda mesti sangat hati-hati menggunakan dana yang terbatas. Caranya, belilah saham yang sektornya terdiversivikasi, pecah dana Anda ke dalam beberapa saham. Dengan cara ini, jika satu saham mengalami penurunan, maka saham yang lain bisa mengalami peningkatan. Dan kalau hasil transaksi dikonsolidasikan, Anda tetap akan memperoleh gain, namun tentu tidak sebesar investor institusi. Tapi, sisi baiknya adalah resiko yang Anda tanggung juga menjadi tidak terlalu besar. Singkatnya, seni bermain saham, sebenarnya adalah perpaduan antara kelihaian dalam timing, yakni kapan masuk dan kapan keluar, yang dibarengi dengan memperoleh keuntungan secukupnya, tanpa serakah, serta melakukan diversifikasi terhadap saham yang dibeli. Selamat mencoba.

1 komentar:

  1. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Mia. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah penipuan oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 Juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah dia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya ladymia383@gmail.com dan kehilangan Sety saya diperkenalkan dan diberitahu tentang Ibu Cynthia Dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya yang saya kirim langsung ke rekening bulanan.

    ReplyDelete